Kamis, 25 Desember 2014

Pemuda Hebat, Indonesia Kuat!


Essay ini ditulis dalam rangka mengikuti Beasiswa Dataprint Periode 2. 


Oleh : Agus Ramelan
Mahasiswa Pendidikan Teknik Elektro
Universitas Pendidikan Indonesia 

Siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan bangsa ini? Saya kira itu merupakan pertanyaan mainstream, dan hampir setiap orang tahu apa jawabnya. Ya, pemuda adalah harapan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan di bumi pertiwi ini. Sebagai Iron Stock kepemimpinan bangsa, pemuda sudah seyogyanya menempa dirinya lebih keras dan menebar kebermanfaatan sebanyak-banyaknya di sela-sela masa mudanya.

Pemuda hebat belum tentu bermanfaat. Kehebatan tak ayal acapkali dipergunakan untuk sesuatu yang bersifat negatif dan hanya menjadi subjek parasit bagi masyarakat. Betapa banyak orang hebat yang duduk di senayan yang tersandung kasus korupsi? Bukankah dulu mereka juga seorang aktivis pemuda atau mahasiswa yang berkoar-koar membasmi korupsi? Baiklah, hari esok adalah refleksi dari sekarang. Kepemimpinan bangsa kelak juga cerminan pemudanya sekarang. “Muda hanya sekali maka buatlah muda yang berarti” Begitulah satu kalimat dahsyat yang selalu menjadi obat penawar malas bagi saya. Pemuda sukses kaffah (menyeluruh) ialah yang hebat dan bermanfaat. Pemuda seperti itulah yang sangat dibutuhkan oleh Indonesia. Banyak langkah untuk mewujudkannya, misalnya dengan berkomitmen pada beberapa sifat berikut.

1.Rabbani
Michael H. Hart dalam bukunya 100: Kedudukan Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah merilis 5 tokoh teratas yang paling berpengaruh di dunia adalah mereka yang menempatkan aspek spiritual di balik keilmuawannya. Misalnya untuk yang beragama Islam : Tua rajin ke Masjid itu luar biasa, lebih luar biasa jika yang muda yang rajin sholat berjamaah di masjid.

2. Berani Bermimpi
Memang sih, berani bermimpi adalah kalimat klasik yang senantiasa menghampiri kita di mana saja. Tapi jangan coba-coba bermimpi kalau tidak mau terwujud. Jadi, dapat disimpulkan Mimpi itu bak Hukum Energi : Tidak bisa dihilangkan dan tidak bisa dihambat, namun dapat dikonversikan ke dalam kenyataan!
3. Mandiri
Muda Mandiri, Tua Bahagiakan Mami dan Istri! Tuh maknyus kan? Ya walaupun gak semaknyus muda foya-foya tua kaya raya sih, Namun setidaknya lebih bermakna dan menggetarkan hati lah. Memang belum terlalu mudah sih untuk mengawalinya, tetapi dengan niat dan tekad kuat lambat laun pasti lah terlaksana. Sudah saatnya hukum rimba bagi kawula muda direvisi dan kalau perlu dikontrak ulang, “Siapa yang paling mandiri, dia lah yang menang”.

4. Berpengetahuan

Pengetahuan akan menjadi sebuah peta bagi perjalanan seorang pemimpin. Memulai memaksimalkan waktu untuk menggali pengetahuan sebanyak-banyaknya adalah ciri dari pemuda calon pemimpin bangsa. Saya masih ingat perkataan seseorang yang pernah saya temui di Jakarta yang menyebutkan bahwa “Bagi seorang pemuda, Bersantai-santai adalah laknat kecuali sedikit dan Berlelah-lelah adalah Rahmat”.
Tidak banyak-banyak dan tidak ribet-ribet untuk menjadi sosok pemuda calon pemimpin bangsa. Rabbani, Bermimpi Besar, Mandiri, dan Berpengetahuan adalah langkah tepat di masa muda untuk menggantikan estafet kepemimpinan. Indonesia membutuhkan pemuda, bukan hanya pemuda yang hebat namun juga pemuda yang penuh kebermanfaatan.


Jumat, 05 Desember 2014

GEBRAKAN UKM LEPPIM : UPI EMAS JAWARA PIMNAS

Bandung, UPI
Unit Kegiatan Mahasiswa Lembaga Penelitian dan Pengkajian Intelektual Mahasiswa (UKM LEPPIM UPI) sebagai pusat kegiatan keilmiahan mahasiswa tingkat universitas kembali mengajak seluruh mahasiswa UPI untuk mengajukan proposal Program Kreatifitas Mahasiswa Karya Tulis (PKM-KT). Seperti sebelumnya, LEPPIM kembali didukung penuh oleh rektorat kampus UPI. Kali ini, tagline yang dimunculkan cukup unik dan berani yaitu “UPI Emas Jawara PIMNAS!”. Sudah diketahui bersama, PKM-KT adalah salah satu program dari Dikti untuk mewadahai kreatifitas mahasiswa dalam bentuk penulisan artikel ilmiah dan gagasan tertulis. Setiap proposal yang berhasil diupload akan mendapatkan insentif Rp 50.000,- dari Rektorat dan ketika dinyatakan lolos oleh DIKTI maka akan mendapatkan Rp 3.000.000,-. Pengumpulan PKM KT ke bagian Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kemitraan diberi tengang waktu sampai tanggal 28 Maret 2014. Untuk panduan PKM-KT dapat didownload di link
http://goo.gl/rMkvll atau http://www.leppim.ukm.upi.edu/.
Gebrakan LEPPIM kali ini cukup unik dan menarik perhatian mahasiswa. Baliho besar berukuran 4 x 6 m dipasang di tiga titik sentral Kampus UPI. Selaras dengan penuturan Kadep Penelitian dan Penalaran UKM LEPPIM, Muh. Patoni, pemasangan baliho ini diharapkan mampu menjadi wadah sosialisasi PKM-KT yang maksimal kepada seluruh mahasiswa UPI. “Kehadiran baliho tersebut akan sangat bermanfaat. Hal itu didasari fakta masih banyak mahasiswa UPI yang belum tahu tentang PKM KT. Oleh karena itu, baliho tersebut saya kira bisa menjadi sarana sosialisasi PKM KT yang maksimal di UPI.” Tutur Patoni.
Sebagai bentuk follow up, UKM LEPPIM menyedian wadah online untuk mahasiswa UPI dalam berdiskusi seputar PKM-KT yaitu melalui group Facebook PKM Link Center, Curhat Dong. Selain itu konsultasi juga dapat dilakukan via sms ke no 085723572854 / 08523861574. Dengan adanya gebrakan semacam ini diharapkan kuantitas dan kualitas pengajuan PKM dari mahasiswa UPI semakin meningkat dan dalam tempo ke depan bahkan diharapkan UPI dapat menjuarai PIMNAS. Semoga! (Agus Ramelan). 

LEPPIM UPI PRESENTASIKAN PROPOSAL DIHADAPAN REVIEWER DIKTI

Bandung, UPI
UKM Lembaga Penelitian dan Pengkajian Intelektual Mahasiswa (LEPPIM) Universitas Pendidikan Indonesia kembali menorehkan prestasi yang sangat membanggakan. Kali ini UKM LEPPIM UPI meloloskan satu wakilnya dalam kompetisi Program Hibah Bina Desa (PHBD) DIKTI Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Tahun 2014. Total peserta yang lolos dari seluruh Indonesia adalah 154 tim.
Tim PHBD LEPPIM UPI kali ini diwakili oleh Agus Ramelan (Pend. Teknik Elektro), Usup (Pend. Teknik Elektro), Sulfia Ummah Sholeha (Pend. Matematika), M Yoga Perdana (Pend. Teknik Elektro), dan Yohanes Adi Putra (Pend. Teknik Mesin) dengan judul proposal Sentra Obat Herbal Daun Kelor Tampomas sebagai Usaha Mandiri POSDAYA Tampomas Hijau, Desa Licin, Kabupaten Sumedang. Dalam proposal ini tim berniat membuat sentra industri produk local yang baru dan sekaligus dapat menjadi brand baru juga dari Kabupaten Sumedang.
Bertempat di Hotel Horison Bekasi pada tanggal 1-2 Juli 2014, tim berkesempatan untuk melakukan presentasi dihadapan reviewer dari DIKTI. Masing-masing tim diberikan waktu 15 menit untuk meyakinkan reviewer bahwa gagasan yang diusulkan adalah sebuah gagasan yang realistis dan berdaya guna untuk masyarakat jika diterapkan. DIKTI telah menganggarkan dana hibah maksimal 50 Juta untuk setiap tim yang lolos. Dana tersebut dialokasikan semuanya untuk pengimplementasian gagasan bina desa yang telah diusulkan.
Harapan dari keikutsertaan dalam kegiatan ini adalam terimplementasinya gagasan dari proposal yang dipresentasikan. Kegiatan ini merupakan suatu langkah bagi mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan keilmiahan serta riset di berbagai lintas disiplin ilmu yang berhilir pada penerapannya di masyarakat. Selain itu kegiatan nasional seperti ini, juga dapat diharapkan meningkatkan eksistensi UKM LEPPIM UPI di kancah nasional serta menjadi salah satu langkah mewujudkan cita-cita lembaga untuk senantiasa menghamrumkan almamater, Kampus UPI Tercinta. Semoga! (Agus Ramelan, Manevkomil LEPPIM) 

LEPPIM UPI RAIH JUARA 2 DI HEALTH-SOSIOPRENEURSHIP

Jakarta, UPI

Unit Kegiatan Mahasiswa Lembaga Penelitian dan Pengkajian Intelektual Mahasiswa (Leppim) Universitas Pendidikan Indonesia kembali menorehkan prestasi yang sangat membanggakan. Kali ini UKM Leppim UPI berhasil meraih Juara II di ajang Health-Sosiopreneurship Competition yang diadakan oleh Fakultas Kesehatan Masyarat, Universitas Indonesia. Kompetisi nasional ini dihelat di Kampus UI Depok pada 13-14 November 2014 dalam tajuk Health in Campus 2014 dengan Tema Road to Movement. Perlombaan ini dihadiri oleh sembilan finalis terbaik yang telah terseleksi dari seluruh Indonesia.
Tim delegasi UKM Leppim UPI dalam lomba ini diwakili oleh Agus Ramelan (Pend. Teknik Elektro) sebagai ketua tim , dan 4 anggota tim yaitu Usup (Pend. Teknik Elektro), Sulfia Ummah Sholeha (Pend. Matematika), M Yoga Perdana (Pend. Teknik Elektro), dan Yohanes Adi Putra (Pend. Teknik Mesin) dengan judul karya Sentra Obat Herbal Daun Kelor Tampomas sebagai Usaha Mandiri Posdaya Tampomas Hijau, Desa Licin, Kabupaten Sumedang. Setelah sukses di tahap presentasi, akhirnya tim berhasil finish di urutan ke-2 dan tepat berada satu tingkat di bawah perwakilan tim dari Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang.
Kegiatan ini merupakan suatu langkah bagi mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan keilmiahan serta riset di berbagai lintas disiplin ilmu yang berhilir pada penerapannya di masyarakat. Selain itu kegiatan nasional seperti ini, juga dapat diharapkan meningkatkan eksistensi UKM LEPPIM UPI di kancah nasional serta menjadi salah satu langkah mewujudkan cita-cita lembaga untuk senantiasa menghamrumkan almamater, Kampus UPI Tercinta. Semoga! (Agus Ramelan, Manevkomil LEPPIM). 

AGUS RAMELAN DAN M ADLI, FINALIS TERBAIK LOMBA INOVASI IPTEK

Berita UPI - Jakarta, UPI

Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia kembali menorehkan prestasi terbaiknya di kancah kompetisi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi nasional. Kali ini adalah Agus Ramelan dan M Adli Rizqullah, Mahasiswa Pendidikan Teknik Elektro berhasil menjadi Finalis Terbaik dalam ajang bergengsi Lomba Inovasi Iptek Pemuda Nasional Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.
Acara ini digelar di Hotel Menara Peninsula Jakarta 23-26 Oktober 2014 diikuti oleh 30 finalis pilihan perwakilan perguruan tinggi seluruh Indonesia. Dari 30 finalis yang terpilih, diseleksi kembali dengan melakukan presentasi di hadapan lima juri independen dari berbagai kalangan untuk kemudian ditentukan lima finalis terbaik nasional.
Perwakilan UPI, yaitu Agus dan Adli berhasil meraih tempat pertama sebagai finalis terbaik nasional dan bersanding dengan perwakilan dari Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Gajah Mada, dan Universitas Brawijaya. Dalam perlombaan ini tim mempresentasikan karya berupa alat pengendali charging baterai laptop secara otomatis dengan nama Si Kecil Penyelamat Baterai (SKPB).
Dewan juri menilai, alat ini potensial untuk dikomersialisasikan menjadi produk teknopreneur. Malam Penganugerahan Inovasi Iptek Pemuda Nasional dihelat di halaman Kemenpora RI 24 Oktober 2014 yang dihadiri Mantan Menpora zaman SBY, Roy Suryo.
“Saya dan tim sangat bersyukur dapat mempersembahkan kemenangan ini di sela-sela peringatan Hari Sumpah Pemuda 2014. Kemenangan ini kami persembahkan untuk kampus tercinta dan kampus penuh kenangan, UPI,” tutur Agus Ramelan. (WAS) 

Jumat, 30 Mei 2014

Bukittinggi, Bukit Wisata Pencetak Sang Proklamator Indonesia!

Bung Hatta
Oleh : Iwan Fals

Tuhan terlalu cepat semua 
Kau panggil satu-satunya 
yang tersisa 
proklamator tercinta
Jujur lugu dan bijaksana 
Mengerti apa yang terlintas 
dalam jiwa
rakyat Indonesia

*
Hujan air mata 
dari pelosok negeri 
Saat melepas engkau pergi
Berjuta kepala tertunduk haru 
Terlintas nama seorang sahabat
yang tak lepas dari namamu

**
Terbayang baktimu
Terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa 
Sederhanamu
Bernisan bangga, berkafan do'a 
dari kami yang merindukan orang 
Sepertimu
Bung Hatta, Sang Proklamator memang telah wafat sejak 14 Maret 1980 lalu. Namun tetap semangat ruh perjuangan beliau tetap ada hati masyarakat Indonesia. Termasuk di hati seorang Masram. Saya sangat terinspirasi dengan segala perjuangan akademik, organisasi, kereligiusan, kesederhanaan, dan nasionalisme beliau.
18 November 2014 merupakan sebuah sejarah traveleta bagi saya. Paling berkesannya karena itu adalah awal saya mencicipi terbang dengan pesawat terbang. Bagi seorang anak desa, terbang adalah mimpi besar. Dan jika terwujud itu adalah sebuah anugerah terindah.
Dalam tajuk sebagai wakil universitas untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional di Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, akhirnya saya mempunyai cerita baru. Terbang dari Bandara Internasional Soekarno Hatta dan menuju destinasinya Bandara Internasional Minangkabau. Indahnya bibir pantai yang terabit beberapa pulau kecil adalah sambutan pertamaku sebelum mendarat di tanah Minang. Dari sambutan itu, saya sangat percaya dengan pelajaran sewaktu Sekolah Dasar yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan.
Selepas kegiatan presentasi dan seminar yang cukup melelahkan, tiba-tiba sayuk-sayuk panitia mengumumkan bahwa kegiatan selanjutnya adalah field trip. Bak, matahari di tengah dinginnya malam, pengumuman ini dengan pasti membuat saya bahagia, termasuk finalis lainnya juga. Tujuan utamanya adalah Bukit Tinggi. 



Di atas bus kampus UNP, kami melaju menuju Jam Gadang ada. Lika-liku jalan sudah sangat biasa buat saya, maklum di daerah saya pun jalannya juga sama. Mendaki gunung, menuruni lembah, dan tak semudah serta sependek yang ada di Ninja Hatori. Di tengah perjalan, teman panitia yang memandu kami, menceritakan apa pun yang ada di sekitar jalan. Sebelum sampai di Padang Panjang, ada Rumah Puisi seorang maestro mahakarya puisi Indonesia, Taufiq Ismail. Ada juga komplek pesantren yang katanya pernah buat syuting film terkenal di Indonesia. Dan saya juga menemukan sebuah nama yang sering saya denger sebagai nama warung makan Padang, yaitu Lembah Anai. Sebuah air terjuan di antara dua bukit dan sangat dekat sekali dengan jalan raya. Sangat eksotik dan natural. Satu lagi, jalur rel dan jembatan tua yang membelah perbukitan Padang Panjang adalah saksi kunci bahwa kereta api pernah merayap di sana. 



Tenyata saya salah berimajinasi, tujuan pertama kami adalah Lobang Jepang atau Goa Jepang. Goa ini terletak di Ngarai Sianok, Taman Panorama, Bukit Tinggi. Goa ini merupakan sebuah bunker peninggalan Jepang ketika menjajah Indonesia pada 1942. Tiketnya sangat bersahabat, IDR 5 K. Ketika masuk kita dipandu oleh pemandu yang sekaligus akan menjelaskan beberapa sejarah dari Goa tersebut. Ceritanya cukup menyeramkan dan sempat juga membuat kami sedih, betapa tidak? Banyak rakyat Indonesia yang dipakasa bekerja dan ditahan di sana sampai meninggal dunia. Semoga Tuhan menerima segala kebaikanmu wahai Pahlawan Bangsa. 


Destinasi selanjutnya adalah Jam Gadang, sebuah jam berukuran besar dan telah menjadi kebanggaan masyarakat Bukittinggi. Luar Biasa, saya sendiri terpana melihat kemegahan Jam Gadang. Benar yang dikatakan banyak orang, jam ini mempunyai misteri sendiri dalam penulisan angka Romawi 4. Senang sekali dapat melihat sendiri misteri itu. Setelah puas berkeliling di Jam Gadang, saya berniat untuk berbelanja oleh-oleh. Ternyata tidak jauh dari Jam Gadang, tepatnya di belakangnya, terdapat sebuah pasar yang menjadi pusat perbelanjaan oleh-oleh. Namanya adalah Atas bawah. Pasar ini terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu Pasar Atas, Pasar Lereng dan Pasar Bawah. Komplit sekali oleh-oleh yang ditawarkan di pasar ini. Semakin lama mengelilinginya, naluri saya semakin tidak kuat untuk tidak membeli buah tangan. Sangat menarik perhatian dan harganya punu juga bersahabat. Cocok untuk kantong seorang mahasiswa. 




Akhirnya, di akhir berpoto ria di Jam Gadang, tepat nya di sisi jalan raya, saya menemukan sebuah rumah istimewa. Banyak orang yang menyebutnya sebagai Isatana, walaupun pemiliknya enggan untuk itu. Sempat terdiam tertegun ketika saya benar-benar di depannya, inilah kediaman Proklamator Kebanggaan masram, Istana Bung Hatta. Saya susuri dari ujung ke ujung, sayang sekali tidak ada pintu masuk waktu itu. Apakah memang tidak dibuka untuk umum atau bagaimana saya pun kurang tahu. Yang jelas, saya sudah sangat bahagia berada di depan Istana. Bisa berfoto dengan replika patung Bung Hatta dan Gerbang Istananya semoga dapat menjadi motivasi lebih untuk dapat melanjutkan perjuangan beliau. 





Backpacker bermodal gagasan dan karya tulis saya di Bukittinggi sudah berakhir. Banyak sekali memori yang tidak mengupa dari hati dan pikiran saya. Ingin sekali lain kesempatan diantarkan kembali ke sana, untuk melihat dan menikmati betapa indahnya sebuah bukit di penghujung barat Indonesia ini. Alam bangsaku memang tidak ada duanya di dunia, kami bangga dilahirkan di sini, dan kami berani cinta serta berani berbuat untuk kebaikan Indonesia!.  

*Tulisan ini diikutsertakan Lomba Blog Telkomsel Flash #GetStranded. Berikut adalah link lombanya : http://internet.telkomsel.com/getstranded/#intro

Sabtu, 10 Mei 2014

Onde-Onde sebelum “Politik Paralel”

Onde-onde itu jajanan yang tak tergantikan bagiku, ya bagi seorang masram. Sahabat tahu betapa tidak mudahnya bikin onde-onde? Dan saudara tahu betapa nikmatnya gigitan pertama untuk sang onde-onde? Oleh karenanya, seringkali saya bekal onde-onde yang banyak ketika berangkat dari kampung halaman. Beda daerah ternyata beda cita rasanya. Ibu-ibu pinggir pasar di kampung saya ternyata lihai meracik onde-onde yang menggoyang lidah walaupun hanya dibanderol dengan harga lima ratus rupiah. Lama gak pulang lagi ke Purwantoro, saya jadi kangen onde-onde pintu masuk pasar itu. Dulu sewaktu SMA saya kurang mengenal tentang pentingnya belajar rangkaian listrik. Sekilas dipelajari di mata pelajaran fisika. Gurunya yang juga merangkap menjadi dosen, secara perlahan juga membuat saya semakin merasa kesulitan akan mapel fisika. Luar biasanya, sekarang malah mengambil program studi Pendidikan Teknik Elektro. Jadi, Rangkaian Listrik adalah kewajiban edukasi bagi saya. Sederhananya tentang rangkaian seri dan paralel. Kalau seri itu hambatannya akan semakin besar. Dan paralel itu belum tentu semakin besar hambatanya, kadang-kadang ada yang menjadi semakin kecil hambatannya. Pernah di awal semester belajar tentang mata kuliah umum yang menyinggung tentang filosopi. Nah, saya ada pendapat untuk berhati-hati dengan karakter berbeda pada beberapa teman seperjuangan. Tidak memungkiri, ada suatu upaya “politik paralel” diantara mereka. Karakter dan wujud pendekatan mereka terhadap kita memang berbeda, namun jika benar maka perbedaan itulah yang akan semakin membuat kita bingung dan tidak sadar. Akibatnya kita secara perlahan akan masuk dalam permainanan pencapaian tujuan mereka. Prinsip mereka adalah semakin banyak elemen paralelnya, maka semakin kecil hambatan yang akan dilalui. Dan hambatan itu bisa jadi adalah kita. Wow, ternyata selain ujian di kelas, saya agak bisa ya mengkorelasikan pembahasan mata kuliah dengan gaya hidup. Mayoritas organisasi di kampus sudah ada garis besar di belakang anggaran dasar. Itu menurut saya, beda lagi menurut sahabat. Jadi, berhati-hati dan be happy sudah cukuplah. Bertele-tele sekali saya bercerita, yang jelas tetap tidak akan mengurangi rasa onde-onde yang khas itu. Apapapun yang telah mereka lakukan, saya tetap suka makan onde-onde. Walaun waktu itu saya lebih banyak kerjanya daripada makan onde-onde. Ternyata filosopi “kerja tutup gendang” itu lebih baik. Saya malu karena terlalu nyaring dari dalam. Semoga saja saya tetap menyukai disiplin ilmu yang telah saya pilih dan tentunya selalu berusaha agar tidak merasa rugi. Berbahagia sentosa!  

Minggu, 20 April 2014

Tak kan Lagi Kuantar Ibuku Jadi Pembantu!

Malu juga boleh jikalau ada khalayak yang menonton realitas kehidupanku. Buat aku semuanya egoisitas ini hanya untuk sekadar lulus jadi seorang sarjana pendidik. Seperti yang didambakan Ayah sebelum mengedipkan mata terakir kalinya. Pagi itu entah apakah aku benar-benar menjadi seorang anak yang durhaka pada Ibu. Kuantarkannya ke terminal bus untuk menuju penampungan para pramuwisma, apapun itu kalau orang-orang mengenalnya hanya sebagai penampungan pembantu. Di sana puluhan calon pembantu dan calon baby sister menanti calon majikan menjemput. Dalam artian tidak gratisan, majikan harus menebus dengan biaya yang telah ditentukan untuk dapat memperkerjakannya. Semalam saja aku ikut menginap di sana, rasanya nyamuk-nyamuk itu ikut menertawaiku dengan ejekan “mahasiswa kog ngantar Ibunya jadi Pembantu, apa kata Dunia Nyamuk?”. Dualisme persepsi kali itu menyelimuti pikiran ini. Pertama, saya harus realistis dan menuruti keputusan Ibuku untuk bekerja di Jakarta sebagai pramuwisma. Kedua, sebagai mahasiswa sekaligus anak saya sejatinya tidak tega. 

Bukannya tanpa sebab kejadian ini terjadi. Sejak aku masih balita, Ibuku telah pergi jauh merantau untuk mencari penghidupan baru setelah ditinggal tanpa status suami. Dalam dan luar negeri telah Ibu sambangi. Mulai dari pembantu rumah tangga sampai jabatan tertingginya adalah sebagai juru masak di kantor konjen RI di Vietnam. Maklum, Ibu memang tak mengenyam pendidikan sama sekali. Bahkan Ibu termasuk salah satu penderita buta aksara. Cerita lucunya waktu Ibu ikut staf diplomatik di Mesir, saat itu diminta untuk beli garam. Bubuk putih yang digelar oleh pedagang sayur, semuanya dicicipi oleh Ibu. Yang asin berarti itulah yang garam. Lucu juga sih tapi sepertinya agak berisiko. Ibu pulang setelah lebih dari 10 tahun mencari sesuap nasi di negeri orang. Hatiku sih senang, namun usul tak punya usut, Ibu pulang karena Ayah menderita sakit keras dan berkepanjangan. Sungguh, Ibu bak malaikat surga yang tercipta untuk Ayah. Walaupun ditinggal, dicaci dan bahkan dimadu namun Ibu tetap setia merawat Ayah dengan setulus hati. Hampir 5 tahun rata-rata nya Ibu merawat Ayah dan pada akhirnya Allah berencana yang lebih baik untuk Ayah. Semenjak saat itu, kondisi ekonomi kami terdampar hampir 180 derajat. Ujian yang sampai saat ini masih kami kerjakan untuk mencapai sebuah kelulusan yang hebat dan berkah. Ya ujian ekonomi yang greget adalah hutang keluarga yang menumpuk. Kami yakin, sedikit demi sedikit pasti akan kelar juga dan kami pun yakin bawasannya Allah mempunyai rencana terindahnya untuk keluarga kami. 

Sedari SMA aku sudah mendapatkan beasiswa berprestasi di sebuah sekolah Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) yang terbaik di kabupaten. Dengan beasiswa ini tentunya jatah SPP dan uang saku dari Ibu telah kutabung untuk bekal melanjutkan ke perguruan tinggi, karena aku mempunyai cita untuk jadi seorang Teknokrat. Ujian yang menimpa keluarga juga tak luput berdampak pada tabungan kuliahku. Seratus persen tertarik untuk membantu pembiayaan pengobatan Ayah. Mencoba ikhlas adalah ikhtiar tepat bagiku, Ayah itu hanya Satu namun kuliah masih ada Waktu. Setelah lulus SMA, mencari beasiswa penuh adalah solusi terbaik bagiku. Perguruan tinggi terdepan dalam teknologi tentunya tidak luput dari bidikanku. Selain itu juga mencoba beberapa perguruan tinggi lainnya. Alhasil, di tahun pertama setelah kelulusanku dari SMA, aku belum diterima di perguruan tinggi manapun. Ketika kulihat pengumuman, hanya nama orang lain ataupun teman yang keterima. 

Alasan terkuatku untuk tetap kuliah adalah untuk menghaluskan kembali lutut Ibu yang telah kasar tergores beratus ubin lantai orang-orang kaya. Tak memaksakan kehendak untuk ikut jalur yang lebih mahal, aku putuskan untuk bekerja terlebih dahulu. Orientasi utamanya adalah untuk mengumpulkan biaya masuk perguruan tinggi di tahun berikutnya. Sebagai anak lulusan SMA, aku bekerja di sebuah yayasan lembaga amil zakat. Spesifikasi pekerjaanku adalah sebagai fundrising. Otomatis gajinya pun tidak cukup besar dan bahkan di bawah UMR. Untung saja ada ustadzku waktu ngaji dulu yang menawari pekerjaan sampingan, yaitu sebagai penjaga kos-kosan. Imbal baliknya aku dikasih honor seratus lima puluh ribu rupiah setiap bulannya dan dibebaskan dari biaya kontrakan. Setiap pagi sebelum kerja aku sempatkan membersihkan halaman kosan dan mengecek anak-anak kos. Dan berlanjut sepulang kerja, tugas wajibku adalah tetap memantau anak-anak kos yang notabene masih tergolong usia labil. Jangan sampai terjadi sesuatu di luar keinginan di dalam kosan yang kujaga. Masih saja kurang cukup ternyata segala yang kuupayakan untuk menabung guna pembiayaan kuliah nanti. Maklum waktu itu aku juga masih punya tanggungan adik satu yang duduk di Sekolah Dasar. Untuk menambah pundi-pundi kantong, aku membuka Angkringan atau warung kopi yang mulai beroperasi dari jam 5 sore sampai jam 10.30 malam. Menunya berbagai macam dan hasilnya pun dibagi dengan pemilik modal. Pekerjaan tambahan ini tentunya memotong masa istirahatku kecuali di akhir pekan yang kantor tempat kerjaku libur. 

Jauh panggang dari api. Masih saja, tiga bulan pertama segala upaya yang telah kulakukan ternyata belum dapat menambah saldo tabungan persiapan kuliahku. Di saat itu, datang tawaran dari saudara yang tinggal di luar kota untuk mencoba berjualan di pasar pagi. Rencana saya adalah ketika dini hari saya jualan dan siangnya dapat belajar untuk mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi negeri. Singkat cerita tawaran itu aku ambil dan berhijrahlah aku ke luar kota. Di sebuah kota eksotik dan acapkali disebut sebagai Flower City, aku malah berada jauh di balik gemerlapnya kota tersebut. Paving yang becek, bau dan berlumpur adalah alas pijakanku setiap hari. Dan seolah-olah tarian wanita jadi-jadian (banci-red) di pinggir jalan adalah sambutan rutinku setiap kali pergi belanja dagangan saat dini hari. Aku yang dulunya seorang pimpinan organisasi antar sekolah tingkat SMA dan menjuarai beberapa kompetisi ilmiah siswa, kini adalah seorang pedagang ayam boiler di sebuah pasar tradisional. Jam 2 pagi aku pergi berbelanja, jam 3 pagi aku mencabuti bulu ayam dan membersihkan semua isi perut ayam, dan jam setengah 4 sampai jam 8 pagi aku mulai meladeni pelanggan yang mayoritas adalah tukang bakso dan pedagang sayur. Tak sampai situ, jam setengah 9 pagi adalah moment yang selalu kuingat sampai sekarang yaitu membelah usus ayam dengan silet dan memisahkan antara usus dengan kotoran ayamnya. Ehmmms, maaf jikalau membuat Anda berimajinasi namun ini adalah realitasku beberapa tahun yang lalu. Dagang itu ternyata penuh harap-harap cemas, boleh jadi hari ini untung namun hari berikutnya buntung. Rencana awal sewaktu mau berangkat Alhamdulillah terlaksana dengan baik. Dini hari jualan dan siangnya belajar pun terlaksana. Dan Alhamdulilah Wa Syukurillah, alhasil atas izin-Nya aku masuk sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di kota tersebut. Di semester pertama rutinitasku sebagai pedagang ayam potong pun masih berjalan dan imbasnya rasa kantuk selalu menyelimuti ketika kuliah. Terkadang bau isi usus ayam ikut serta dalam kuliahku di kelas, maklum karena buru-buru aku ternyata lupa untuk mandi. 




Sekali lagi, Ibuku adalah alasan terkuatku mengapa aku harus terus bertahan dan berjuang. Memang, di tingkat 3 masa kuliahku belum bisa menutup rapor tanggungan hutang keluarga secara penuh. Setidaknya aku sudah mulai ikut berbahagia ketika Ibu mulai tersenyum lebar untukku. “Anakku itu sering lomba di mana-mana, IP kuliahnya diatas 3.5, sering berpidato ngisi acara juga, dan sekarang aku dibukakan kios untuk jualan sendiri. Sampeyan (Anda-red) mau mbak sama anakku?” itulah candaan Ibuku ke seorang pelanggannya yang memang manis dan beraura. Dalam hati sih saya senang karena dicarikan jodoh, namun tetap saja saya pura-pura malu dan meminta Ibu untuk tidak mengulanginya lagi. Hehe. Perjalanan ini belum selasai dan ujian ini belum tuntas kami tutup dengan nilai cumlaude. Kami percaya bahwa yang maha kuasa memberikan keindahan di akhir kisah ini, dan kami pun senantisa berdo’a untuk Ayah semoga ditempatkan di sisi terbaik-Nya. Aamiin.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba #CintaMenginspirasi 2014. Kawan-kawan pun juga dapat berpartisipasi dalam Lomba ini dengan mengklik icon banner di bawah ini. Good Luck! 


Minggu, 06 April 2014

#Education : Kisahku untuk Refleksi Pendidikan Masa Depan Indonesia

"Berjalan Tak Kenal Lelah Dan Tak Takut Kalah"
Masram Dahsyat 

Salam Berbagi! Kawan berbagi adalah sebuah hal yang istimewa, bermanfaat dan semuanya Inadah. Termasuk pada postingan kali ini, perkenalkan saya Agus Ramelan atau biasa sebut saja Masram dari tanah perantauan Kota Kembang. Kali merupakan sebuah kesempatan berharga untuk berbagi cerita dalam tajuk Lomba Blog Putera Sampoerna Foundation. Kalah menang bukanlah permasalahan, esensi terpenting adalah kita dapat berbagi gagsan yang tentunya berhilir pada satu tujuan yaitu Bangsa Indonesia yang lebih baik lagi. Berikut adalah sekadar cuplikan kisah pribadi yang saya harap dapat menjadi gambaran untuk Kondisi Masa Depan Pendidikan Indonesia. 

Persaingan Mulai Ada sejak SD 

Sumber : http://pmat.uad.ac.id/wp-content/uploads/images2.jpeg

Tahun 2002 silam bisa jadi merupakan awal dari sebuah kisah baru bagi diri saya. Kalau salah satu group band bilang, sebuah nama sebuah kisah. Namun, saya bilang sebuah kisah sebuah tonggak awal untuk menjadi insan sesungguhnya. Pada tahun tersebut saya menginjak usia anak-anak yang sedang duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar, tepatnya di SD N 1 Kepyar. Sebuah sekolah yang terletak tepat di pinggir sawah, di atas sungai, dan di tengah-tengah masyarakat perantau ulung yang berani melalang buana ke seantereo Indonesia. Hal yang unik dari sekolah saya waktu itu adalah hampir tiap bulan atap yang terbuat dari genteng tanah selalu pecah, alhasil ketika musim penghujan yang terjadi adalah atapnya bocor dan ketika musim kemarau yang terjadi adalah kilaun cahaya matahari menusuk mata membaurkan Teori Phitagoras yang mulai dituliskan Ibu Guru di papan tulis. Lebih uniknya lagi, pecahnya genteng tidak terjadi karena faktor usianya namun hal ini disebabkan oleh letak sekolah saya yang tepat berada di pantat gawang dari lapangan sepakbola utama Desa Kepyar. Hampir tiap sore juga tendangan super bak tendangan Si Madun memberondong atap genteng sekolah, asyik juga waktu itu saya melihatnya. Keasyikan semu jikalau hal itu masih terjadi saat usia saya sekarang ini. Terlepas dari kondisi fisik sekolah dan tentunya berlanjut ke sebuah kisah pertama saya waktu kelas IV SD, yaitu mulai terdapatnya persaingan belajar ketat antara kami sesama pelajar di satu kelas. Saya yang mulai mendapatkan posisi empuk di peringkat pertama juga tidak mau kalah untuk tetap bersaing. Waktu itu yang ada adalah ketika saya peringkat pertama, maka pujian, hadiah dan tepuk tangan hanyalah milik yang terbaik, yaitu saya Agus Ramelan. Yang lebih asyik lagi, ketika siswa lain bahkan orang tuanya sekalipun melihat nilai rapor yang saya peroleh pasti pada akan ndomblong (baca : terkagum-kagum). Persaingan awal kelas IV ini sejatinya bukan pertempuran yang nyata. Berkat persaingan ini saya mulai menemukan semangat untuk mengubah tradisi, begitupun juga dengan kawan sebaya ku yang lain. 


Mereka Mulai Terkikis 
Sedikit dirasa, banyak yang tak terasa bahwa perjalanan di sekolah dasar sudah berada di ujung tanduk. Sulit dibayangkan, usia hampir remaja bagi kami saat ini sudah diharuskan menelan berbagai doktrin yang berasal bertubi-tubi dari masyarakat sekitar bahkan kalangan internal keluarga. “Halah le, sekolah kuwi ora mareki. Mendingan lungo ngrantau neng Njakarta kono wae. Delokken kae paijo, rong tahun neng Njakarta muleh iso tuku sapi”. Kalimat inilah sering saya dengar yang mengandung makna imbauan untuk lekas merantau saja daripada sekolah tidak ada hasilnya. Rayuan ini ternyata berhasil, sekitar lima dari teman saya sekelas tergiur untuk memutuskan tidak melanjutkan sekolah. Keputusan ini diimbangi dengan asumsi sekaligus permasalahan klasik yang menyebutkan sekolah itu mahal, walaupun masih di tataran Sekolah Menengah Pertama. Memang jumlah kawan saya yang berhenti sekolah hanyalah jumlah jari dalam satu tangan, namun siapa yang tahu jikalau mereka tetap mengenyam pendidikan mungkin merekalah yang jadi ketua BEM, ketua UKM, Mahasiswa Prestasi, atau bahkan koordinator lapangan waktu demonstrasi menentang kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat. 

Hanya 10 yang Bertahan 

Sumber : http://fiftytwopoetry.files.wordpress.com/2014/03/10.jpeg

Berlanjut di tingkat akhir Sekolah Menengah Pertama, kawan-kawan saya semakin bertambah yang terbuai rayuan pohon kelapa yang rindang itu. Seakan-akan tak berefek sama sekali, menuntut ilmu di SMP favorit se-kecamatan. Godaan internal masyarakat lebih kuat menusuk di tengah-tengah kurangnya fungsionalis bagian Bimbingan Konseling (BK) di sekolah. Padahal, kami masih untung bisa mencicipi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) mulai tahun 2005. Bantuan ini digembor-gemborkan untuk mensukseskan program wajib belajar 9 tahun dari pemerintah. Nayamul juga (baca : lumayan), dengan bantuan ini seharusnya orang tua wali murid bisa menabung atau mengalihkan dana yang seharusnya dikeluarkan untuk membayar tanggungan pendidikan di SMP, ke pembayaran tanggungan biaya pendidikan di SMA. Sehingga tujuan apik-nya adalah semua peserta didik di SMP bisa dengan mulus tanpa terkendala dana untuk mengenyam bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajatnya. Lagi-lagi, bukan sebuah kebijakan namanya kalau belum mengalami hambatan berarti di negeri ini. Tujuan apik dari program ini belum semuanya terkabul, masih banyak juga pelajar SMP yang enggan melanjutkan ke jenjang berikutnya. Faktor klasik masalah dana senantiasa enggan untuk tidak menyertai setiap nafas pendidikan. Dan yang paling lucu, saya sendiri bercanda “Ya gak papa kog gak sekolah ke SMA, kan udah nggak dosa lagi. Tanya kenapa?, Ya iyalah gak dosa lagi, wong kita dah nyelesain wajib belajar 9 tahun kog. Yang kesepuluh dan selanjutnya kan gak wajib. Hehehe lucu kan?” 

Dan Hanya Tinggal 2 

Sumber : http://www.kopertis2.or.id/

Saya hampir terbelangak tak percaya akan akhir kisah bersama kawan-kawan pesaing waktu kelas IV SD dulu itu. Setelah hanya sepuluh orang yang melanjutkan ke tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), sambil mengusap air mata hati saya mengungkapkan hanya dua yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Ini serius bukan hanya karena efek KB yang menyebutkan dua anak lebih baik. Mungkin tidak salah, sekolah kami telah berhasil meng-KB-kan lulusannya. Sekali lagi susah sekali saya percaya. Pasalnya, saya ini angkatan lahir ’92 bukan lah zaman pra-kemerdekaan atau awal pembangunan NKRI. Masyarakat boleh dibaurkan dengan hegemoni gempita pendaftaran SNMPTN 2011 yang peminatnya mencapai 540.928 [1]. Namun sejatinya miris banget bukan miris ajah, sampelnya jelas kisah dari kawan seperjuangan saya waktu sekolah dasar yang hanya dua orang saja yang mencicipi bangku kuliah. Saya pun agak yakin, kondisi ini juga terjadi di daerah lain yang coraknya hampir sama dengan daerah saya tinggal dulu. Setelah reunian lebaran kemarin, tetangga dan kawan saya mengatakan bahwa pendidikan tinggi itu bukan faktor kesuksesan. Seratus saya acungkan jempol terhadap statement mereka. Sejatinya sudah berkali-kali, orang mengingatkan ini bukan masalah sukses atau tidaknya seseorang. Inilah permasalahan dasar mengenai sadar atau tidaknya peran pendidikan terhadap pembangunan bangsa. Mengapa peribahasa menganjurkan menuntutlah ilmu sampai negeri China jikalau hanya untuk mencari kesuksesan? 

Apa yang Kurang Benar? 
Lalu, lantas bagaimanakah mengilhami kisah ini? Apakah berakhir semata di utain cerpen dan paling panjangnya di atas novel? Ternyata, kisah ini membawa analisis-sintesis yang terpadu buat saya khususnya. Memang masih adanya faktor budaya lulus SMP langsung merantau sampai sekarang ini, inilah yang saya sebut sebagai sebuah tradisi di desa kami. Bukanlah tradisi yang terikat hukum agama dan adat. Yang dimaksud adalah tradisi karena jeratan ekonomi. Pertama-tama, mereka hanya ingin seperti tetangga yang gaul waktu mudik lebaran. Akan tetapi, lambat laun faktor pemenuhan kebutuhan ekonomi dipastikan akan menjadi kunci utama dalam pergerakan mereka. Dalam konteks ini, saya akan lebih melirik faktor yang sangat sering disebut sebagai faktor klasik yaitu dana atau dikenal sebagai istilah “biaya pendidikan”. Program pemerintah yang mencanangkan wajib belajar 9 tahun dan dibarengi pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bisa jadi dikatakan sukses terlaksana. Perlu digarisbawahi dan dicetak tebal, program tersebut hanya sukses mengantar anak indonesia sampai jenjang SMP saja. Untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya, itu tergantung orang tua dan sebagian untuk ke SMA juga tergantung kebijakan pemerintah daerah setempat. Mengingat, ada beberapa pemerintah daerah yang menggratiskan biaya pendidikan di tingkat SMA. Namun, tetap belum jelas kepastian banyak atau tidaknya anak Indonesia yang melanjutkan setelah SMP dan SMA. Perihal yang sangat menakutkan untuk melanjutkan kuliah itu bukan ospek nya yang aneh-aneh atau ada dosen yang tidak jelas memberi nilai, namun kembali lagi ke faktor klasik yaitu dana. Saya pernah dengar kawan-kawan yang sering berdemo, mereka mengatakan pendidikan tinggi di Indonesia ini sekarang penuh dengan komersialisasi. Masih kata mereka, perguruan tinggi tidak mementingkan kualitas lulusan namun memikirkan saldo akhir tahun masih tersisa berapa. Beuh, kalau benar begitu mungkin lebih baik jadi koperasi atau lembaga usaha yang benar-benar nampak adanya. 

Solusi : Pendidikan Tinggi Gratis? 

Sumber : http://pmb.polindra.ac.id/

Pendidikan tinggi gratis seharusnya hal yang mutlak untuk Indonesia saat ini. Weleh-weleh, gelo sia! Darimana dananya? Ketika tekad dibarengi praktek yang sehat maka sekiranya tidak ada yang mustahil untuk pendidikan Indonesia. Pahit-pahitnya saya lebih setuju ketika dana kompensasi BOS dialihkan ke dalam sebuah program khusus untuk memberi kompensasi biaya pendidikan di pendidikan tinggi. Sekiranya mungkin orang tua walimurid juga lebih setuju pendidikan tinggi yang gratis dibandingkan dengan SD dan SMP yang gratis. Konsep ini tetap memberikan peran tanggung jawab keorangtuaan kepada anak di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Teman saya yang notabene sebagai delegasi Indonesia di ajang ISWI Jerman pernah bercerita, di saat sesi pengakraban dengan delegasi lain seluruh dunia, dia bertemu delegasi dari Turkmenistan. Cerita mereka berhilir pada konsep pendidikan tinggi gratis di negara tersebut. Hal yang dahsyat, betapa tidak? Negara yang pernah dikalahkan sepak bolanya oleh Tim Garuda di ajang Pra Piala Dunia 2014 leg kedua ini mampu dan yakin menerapkan pendidikan tinggi gratis untuk seluruh rakyatnya. Bukankah ini cambuk motivasi bagi bangsa kita? Hanya tinggal mau atau ragu saja sebetulnya.
            Dengan penerapan pendidikan tinggi gratis, gelar sarjana bukanlah sekadar gelar materialistis yang mengedepankan profit ketika masuk dunia kerja. Ribuan sarjana akan menyerbu dusun-dusun, desa-desa, dan seluruh pelosok nusantara. Ketika bekal pendidikan terpenuhi, kesuksesan sangatlah mungkin untuk mengikuti sebagai hasil dari sebuah proses pembelajaran. Inilah sebuah konsep yang mencerminkan Pendidikan Kerayakyatan. Sebuah pola pendidikan yang pro sekaligus mencerdaskan semua rakyat, bukan mencerdaskan mereka yang berkantong penuh. Sebuah pola pendidikan yang mengedepankan pengabdian pada masyarakat, bukan pengabdian pada kaum kapitalis. Hilirnya, dengan konsep ini diharapkan mampu mewujudkan Indonesia cerdas dan selanjutnya tidak hanya cukup menjadi Macan Asia, namun berpotensi untuk menjadi Garuda yang mencengkeram kuat dunia ini. Semoga.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[1] Tersedia di : http://nasional.cukupsatu.com/news/read/2011/05/31/1743/jumlah-peserta-snmptn-capai-540.928

Senin, 31 Maret 2014

Mengelola Sampah Sedari Dini!

Lingkungan? Apa yang ada dibenak Saudara ketika mendengar tuh kata “Lingkungan”? Ow, saya yakin deh salah satunya pasti ada kata “Sampah” yang muncul. Ora piye tho?, Zaman sekarang nih sampah terus meningkat elektabilitasnya bak seseorang yang tersohor, bahkan kalau disurvei secara independen dapat diprediksi bahwa sampah tuh pasti di rentang 5 besar permasalahan Lingkungan. Nah saudara-saudara se bangsa, setanah air, dan tentunya se- BLOGGER. Dalam rangka mengikuti kontes Blog yang diadakan WWF Indonesia yang bekerjasama dengan Blogdetik dengan tema Blogger Peduli Lingkungan ini, izinkanlah saya (sebut saja Masram) berbagi gagasan cemerlang bak Suringlang diapit Layung Senja sekaligus berpartisipasi aktif dalam kampanye #IngatLingkungandengan Judul Gagasannya adalah “Mengelola Sampah Sedari Dini!”. Masram tidak sendiri dalam mencetuskan Gagasan ini, ditemanin teman satu Geng dari sebuah Kelompok Keilmiahan di Kampus kami bersama mengkreasikan sebuah gagasan solutif untuk permasalahan Sampah. Thanks a lot for my the best partner, Sdri. Nurul A. dan Sdri. Rina F. Eh ada yang protes dengan penggunaan kata Dini?, maaf Saudara. Dini yang dimaksud bukan tetangga Masram, Tetangga Saudara, ataupun bahkan Saudari Blogger. Ini hanyalah sebuah istilah lain yang berarti “Saat masih Kecil atau anak-anak”. Okelah Cekidot gagasan Masram yang dikemas dalam keseriusan berbaur data dari sumber yang dapat dipercaya.
Permasalahan mengenai pengelolaan sampah merupakan masalah klasik yang tidak kunjung terselesaikan. Kesan negatif dan rendah terhadap sampah merupakan salah satu penyebab kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengelolanya secara mandiri. Menurut WHO, sampah didefinisikan sebagai sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya (Candra, 2007). Sebagai sesuatu yang tidak digunakan yang notabene disebabkan oleh kegiatan manusia maka sudah seharusnya sampah diolah secara mandiri oleh yang bersangkutan. Sebagai bagian yang tak terparsialkan dari kehidupan manusia, sampah bergerak sebanding dan linier dengan perkembangan manusia itu sendiri. Mulai dari meningkatnya jumlah populasi maupun perubahan gaya hidup manusia. Hal lain yang mempunyai andil dalam bertambahnya volume sampah selain alur kehidupan manusia antara lain seperti sistem pengelolaan sampah, keadaan geografi, musim dan waktu, teknologi serta tingkat sosial ekonomi masyarakat. Dari beberapa hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa semakin kompleks alur kehidupan manusia, terutama di kota-kota besar maka sudah dapat dipastikan bahwa jumlah sampah juga akan terus bertambah.
Sebagai sampel adalah volume sampah di DKI Jakarta. Menurut Dinas Kebersihan DKI, volume sampah di Jakarta rata-rata sekitar 6.000-6.500 ton perhari. Jumlah ini selaras dengan tingkat populasi dan alur kehidupan di Kota Jakarta. Dalam skala nasional, Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar 122 tempat sampah seukuran gelora Bung Karno (GBK) setiap tahunnya untuk menampung sampah yang tidak terangkut. Di lain kesempatan, BAPPENAS juga memberikan keterangan melalui Direktur Perumahan dan Pemukiman bahwa volume sampah di Indonesia mencapai 1 juta meter kubik setiap hari, namun baru 42% diantaranya yang terangkut dan diolah dengan baik. Jadi, sampah yang tidak terangkut sekitar 348.000 meter titik atau sekitar 300 ton setiap harinya. Data ini merupakan cerminan mengenai tata kelola sampah yang belum optimal. Faktor inilah yang menjadikan masalah pengelolaan sampah dijadikan prioritas pada umumnya di pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah. Beberapa upaya telah digencarkan oleh pemerintah untuk mengatasi permasalahan sampah. Mulai dari finansial sampai berbagai program telah digalakkan oleh pemerintah. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menganggarkan dana Rp 800 miliar setiap tahun untuk membangun 250 tempat pembuangan akhir (TPA) di seluruh wilayah Indonesia selama kurun waktu lima tahun. Program tersebut telah tertuang dalam RJPM sehingga harus dilaksanakan dan diharapkan rampung sampai tahun 2014. Di sisi lain, pemerintah juga gencar melibatkan masyarakat secara aktif untuk gotong royong mengelola sampah. Salah satunya dengan meluncurkan program Bank Sampah. Bank ini merekrut masyarakat sebagai nasabah dan menyetorkan tabungan berupa sampah yang sudah di pilah-pilah berdasarkan jenisnya. Nasabah akan mendapatkan keuntungan setelah sampah berhasil di daur ulang menjadi bahan bernilai jual.
Beberapa upaya di atas dirasa belum optimal mengingat semakin hari volume sampah semakin meningkat. Sudah seharusnya masalah sampah menjadi masalah semua pihak, tidak hanya mengandalkan pemerintah pusat maupun daerah. Semua elemen masyarakat mempunyai andil besar dalam penanganan masalah ini. Di sisi lain kesadaran akan pola hidup bersih juga cukup berperan penting dalam permasalahan sampah. Sudah diketahui bersama bahwa untuk menciptakan suatu kesadaran khususnya sadar lingkungan tidak tercipta secara intan dan cepat. Perlu proses pendidikan yang bertahap dan berkelanjutan. Berlandaskan pemikiran inilah Masram mempunyai sebuah gagasan guna memperkenalkan aspek kesadaran dalam bidang lingkungan khususnya dalam pengelolaan sampah semenjak usia dini. Gagasan tersebut masram tuangkan dalam sebuah program yaitu Program Pelajar Sahabat Sampah (PS2) Sebagai Upaya Pengenalan Dini Manajemen Pengelolaan Sampah Kepada Siswa Sekolah Dasar”. Program ini merupakan solusi aplikatif atas permasalahan kurangnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri. Dengan pendidikan manajemen sampah sedini mungkin, diharapkan anak-anak di setiap jenjang usianya bahkan sampai dewasa mempunyai kepekaan akan sadar lingkungan dan berusaha semaksimal mungkin untuk menciptakan kondisi lingkungan yang bersih, rapi dan tertata.
Program Pelajar Sahabat Sampah (PS2) merupakan program baru yang dapat dijadikan solusi aplikatif untuk menumbuhkan kesadaran yang diimbangi komopetensi masyarakat sedini mungkin dalam pengeloaan sampah. Program ini menjadikan anak-anak di jenjang sekolah dasar sebagai objeknya. Mulai dari kelas satu sekolah dasar sudah diperkenalkan tentang  pola mengelola sampah yang baik dan benar melalui program ini. Di lain sisi, program ini juga bertujuan untuk mengubah paradigma masyarakat mulai dari usia anak-anak bahwa sampah yang pada awalnya sampah dianggap sesuatu yang negatif dan hanya dibersihkan oleh tukang sampah, maka dengan adanya program ini paradigma tersebut mulai luntur dan muncul suatu konsekuensi tanggung jawab bahwa sampah adalah tanggung jawab bersama. Berikut adalah model pelaksanaa teknik Program Pelajar Sahabat Sampah. 


Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang dilimpahkan pada Dinas Pendidikan di setiap daerah yang bersangkutan, meluncurkan Program Pelajar Sahabat Sampah (PS2). Pemerintah juga menghimbau ke setiap sekolah dasar bahwa Program PS2 adalah program wajib yang harus dilaksankan di setiap sekolah. Hal ini dapat diperkuat dengan dibuatkannya dasar hukum seperti pereturan pemerintah. Pemerintah juga harus bersinergi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) khususnya yang berada di bidang sosial lingkungan. Sinergi ini sangat diperlukan guna penyatuan gagasan sehingga terjadinya suatu kekompakan padu dalam menjalan Program PS2 bersamaan.
Manfaat yang ingin dicapai dari program ini adalah munculnya kesadaran masyarakat sedari dini atau semenjak usia anak-anak di jenjang sekolah dasar akan pentingnya mengelola sampah guna terciptanya lingkungan hidup yang asri dan bersih. Sudah pasti bahwa kesadaran yang ditimbulkan juga dibarengi dengan kompetensi dalam mengelola sampah secara mandiri. Selanjutnya, luaran khusu dari program ini disebut dengan Pelajar Sahabat Sampah. Pelajar luaran dari program ini mempunyai kompetensi mandiri dalam mengelola sampah  yaitu, a). Mampu menyusun rencana manajemen pengelolaan sampah. b). Mampu menjalankan rencana yang dibuat dan mampu menemukan solusi ketika menghadapi kendala dalam pelaksanaanya. c). Mampu mengevaluasi manajemen pengelolaan sampah yang telah dilaksanakan. d). Mempu berinovasi dalam upaya pengembangan lebih lanjut pola pengelolaan sampah.
Nah, semoga saja gagasan ini dibaca oleh pihak yang berwenang untuk mengimplentasikannya. Namun tak lah elok ketika kita hanya duduk diam tanpa pergerakan apapun. Kita Boleh Punya Mimpi yang Besar, namun tanpa Tindakan Mimpi Kita tidak akan Bergerak Kemana-mana. Mulai dari lingkungan terkecil, kepada sanak saudara kita, adik-adik kita, mari kita beri contoh untuk sebuah upaya pendidikan sadar lingkungan dengan konsep Learning by Doing. Di akhir, Masram ucapkan terima kasih kepada WWF Indonesia dan Blogdetik, sebuah kesempatan emas bagi Blogger untuk menyampaikan gagasannya dalam Tajuk Lomba Blog #IngatLingkungan ini. Lingkungan Indonesia akan Asri, Jika Masyarakatnya pun Berperilaku Asri. Salam Muda Hebat Muda Bermanfaat! 


Oh iya, Selain Buang Sampah pada tempatnya, Mari Menanam juga ya Saudara/ri. 
Karena Menanam itu Bukan hanya Tugas Pemerintah saja, Apalagi Tugas Pak Kades saja. Namun tugas Kita Semua!