Rabu, 18 Juli 2012

Secercah Embun


Menghembus Awan Hitam!
“Halo, cen kamu cepet pulang ya sekarang, Bapak dirawat di rumah sakit ni” suara kakak dengan nada lesu campur tergesa-gesa. Akupun bergegas kemas-kemas barang di kosan dan langsung meluncur ke rumah sakit. Memang, di usia 50 tahun lebih ini Bapak sering terkena sakit yang lumayan serius. Misalnya darah tinggi, reumatik, dan bahkan stroke. Keluar masuk rumah sakit adalah hal yang wajar, sebelum yang sekarng ini Bapak udah dua kali di rawat inap. Prtama-tama biaya untuk berobat kurang bermasalah, namun semenjak Ibu berhenti bekerja untuk merawat Bapak, kami sngat kesulitan untuk biaya pengobatan. Ya mungkin hanya sekadar gali lobang tutup lobang.

Aku sangat salut pada Ibuku. Dengan bekas luka dihatinya, beliau tak enggan merawat Bapak. Ibu sangat sabar dan penuh kasih sayang untuk merawat Bapak, saking sayangnya Ibu rela menjual semua kenang-kengannya ketia Ibu masih bekerja di luar negeri. Ibu bukanlah TKI, Ibu hanya diajak seorang Diplomatik untuk menjadi seorang juru masak. Sekali lagi aku salut sama Ibu, beliau gak pernah sekolah sama sekali. Namun jangn ditanya tentang pengalamannya, beliau pernah singgah di empat benua di dunia ini. Hanya satu benua yang belum, yaitu Amerika. Waktu ada tawaran diajak ke Amerika dari adik bosnya, Ibu sedang di rumah merawat Bapak. Ada satu cerita yang agak lucu dari Ibu, ketia beliau di Mesir sempat diminta beli garam oleh atasan. Karena Ibi gak bisa baca, gak bisa nulis, dan gak bisa bahasa inggris atau bahasa mesir, Ibu mencicipi satu per satu serbuk putih yang ada di warung. Untung, kali ini Ibu beruntung. Cicipan pertama rasanya asin, tentu donk itu pasti garam(pikiran Ibu). Ketika pulang, ternyata si bos meminta maaf kepada Ibu karena kalau Ibu orang baru di mesir. Ketika garam dikasihkan, si bos sangat salut kepada ibu.hehehe. Itulah Ibu, ketika mendapat amanah selalu ingin dikerjakan dengan segala daya dan upaya.
Dua hari lagi tepat akan datang Idul Fitri, kita berempat masih menghuni ruang kecil di lantai dua di rumah sakit modern ini. Kami hanya berharap, Bapak lekas pulih dan bisa merasakan suka cita di hari yang fitri. Harapan kami mungkin  terkabul di hari lain, di hari yang fitri ini Bapak masi terlelap di atas kasur tipis di rumah sakit. Sungkeman(tradisi jawa ketika lebaran) dilakukan di rumah sakit. Raut wajah Ibu sangat bahagia dan terharu, mungkin ini lebaran penuh makna bagi Ibu.
*** 
                                                                        
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, kini sudah menginjak bulan Ramadhan lagi. Di bulan ada kado spesial buatku dan khususnya Ibuku. Setelah merantau selama tiga bulan di Bandung, akhirnya aku diterima di Universitas impianku. Ibuku sangat ingin melihat aku jadi seorang mahsiswa, apalagi mahsiswa berprestasi.hehehe. OSPEK pun tiba, aku siap-siap tuk menyambut kakak tingkat yang katanya agak sangar ketika pertama kali menyambut mahasiswa. Aku berjalan beriringan dengan teman-teman baru satu sektor. Mungkin, jika dilihat dari atas kami akan terlihat seperti papan catur yang panjang. Karena kami serentak menggunakan baju putih lengan panjang dan celana hitam panjang. Gempita yel-yel kami dengungkan, bahkan ada candaan temenku yang mengatakan “yel-yel kita harus bisa merobohkan menara gedung itu”.  Di dalam gedung, upacara adat menyambut kedatangan pembesar kampus. Seolah-olah aku dan yang lain merupakan pendatang baru yang harus diritua; sesaklar mungkin. Sela-sela acara yang membosnkan, ada acra hiburan yang cukup menggoyahkan pikiran. Tarian khas aceh, walaupun aku lupa apa itu namanya aku tetap menikmatinya. “titit…titit…titit…” hpku berdering. Ternyata mbakku sms, sms yang membuatku luluh dan perasaan kacau tak terarah. Tak lama kemudian, hp ku berdering keras. Kali ini telepon dari mbak aku juga, nada suara ini lebih membuatku seakan-akan lumpuh kehilangan daya dan upaya. “Ayahku wafat…” pikiranku belum percaya. Aku masih teringat raut muka terakhirnya yang menagis haru ketika aku pulang membawa kabar diterima aku di sini. Ayah, aku belum sempat mencium tanganmu di lebaran nanti. Aku belum sempat menghapus air mata yang dulu kau persembahkan untukku.
Tak banyak tingkah, aku langsung izin panitia ospek dan langsung pulang kerumah. Kebetulan, Pak Lek ku di rumah sudah memesankan tiket kereta api untukku. Tepat pukul 20.10 WIB berangkat dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Balapan Solo. Waktu sahur aku lewati kereta, ada yang berneda saat sahur kali ini. Rasa nafsu makan sepertinya hilang, nasi hanya tercuil beberapa pucuk sendok. Aku sangat ingin bergegas sampai di rumah. Sepuluh jam perjalanan di malam hari ini serasa di waktu siang yang panas. Pukul 06.30 WIB aku tiba di Stasiun Balapan. Becakpun ku pilih untuk transit ke Terminal Tirtonadi. Di pojok kan terminal, telah bertengger bus penumpang jurusan Solo – Wonogiri. Bus yang dulu jadi kebanggan aku semasa sekolah, sekarang kudaki dengan rasa risau dan gundah. Hatiku semakin tak jelas ketika bus ini tak sampai-sampai, karena waktu masih terlalu pagi bus ini selalu ngetem hampir di setiap pasar yang dilewati. Bus ini terlalu lama ngetem, aku tak mau ambil resiko. Aku turun orang di rumah dan minta aku dijemput. Tak lama menunggu, jemputan motor datang dan akupun langsung meluncur secepat kilat menuju rumah.
Aku sudah menduga tapi sepertinya tanpa pengharapan kalau ini harus terjadi, di sekeliling rumahku terpenuhi warga yang duduk di teras dan tenda biru yang baru dipasang. Bergegaslah aku turun dari motor dan berlari kencang ke dalam rumah. Kulihat kotak putih dua meter membujur berhadap ke utara. Kembang setaman bertaburan di dalam kotak yang belum ditutup itu. “Ayah, daku berharap maafmu karena anakmu ini tak sempat menunggu kedip mata terakhirmu”. Aku hanya memanjatkan do’a serambi mencium kening ayah. Tepat pukul 11.00 WIB Ayah diberangkatkan ke makam, aku berusaha memikul salah satu ujung pikul yang membawa Ayah. Terik matahari ini tak terasa menyentuh kulit, rasaku hanya berusaha untuk mengikhlaskan semua ini. Allah pasti memberikan yang terbaik dan teindah untuk kami jalani sekeluarga. Kami sekarang tanpa kepala keluarga. Kami tanpa pangeran di istana ini. Semoga Ayah tetap jadi pangeran di Syurga. Tetaplah semangat Ayah, kami selalu mempersembahkan do’a ini untukmu.
***
Pertengahatahun 2012 ini, kembali aku berjumpa bulan Ramadhan ini. Sebuah kesempatan yang luar biasa untukku. Aku bertekad tidak akan menyia-nyiakan bulan ini. Kata Pak Ustadz bulan ini adalah bulan yang tepat untuk merestorasi ataupun menempa diri. Sampai saat ini masalah belum beranjak dari keluarga. Kakakku, sebetulnya dia lah harapan keluarga setelah kepergian Ayah. Kakak di sekolahkan dengan susah payah sampai tingkat diploma ilmu kebidanan. Biaya kuliah pun sebagian besar merupakan hasil jual sawah kenangan terakhir Ibu ketika merantau. Aku sendri gak habis pikir, apkah ini emang keputusan kedewasaannya? Atau sekadar keinginan pribadi dong?. Kakaku menolak untuk mencari kerja terlebih dahulu, dia pilih lebih cepat untuk ke pelaminan. Sosok laki – laki yang dulu sangat tidak direstui Ayah jadi pilihannya. Nasihat kami tidak mempan, selalu mental dan mental. Apa boleh buat, kami tidak ingin berlarut-larut dalam dilematika yang berkepanjangan. Kami mengiyakan keinginannya untuk naik di kursi pelaminan. Ternyata sesuai dugaan, merka dan kami hidup sampai sekarang tanpa penghasilan.
Aku sangat sering nelpon Ibu di rumah. Aku sangat kangen dan sangat berkeinginan untuk hidup bersama. Yah, mungkin ini bagian dari pengasahan kekebalan dan kematanganku untuk bekal hidup. Satu bulan selama Ramadhan terus kupanjatkan permohonan dari-Mu ya Allah. Berkailah kami, sejahterakanlah keluarga kecil kami, dan tunjukilah kami agar tetap di jalan-Mu.
Ya Rabbi…
Di Bulan Hikmah ini
Kirimkalah Sang Bayu Pencerah
Tuk menghembus, Tuk menyapu
Awan hitam nan mencengkeram
Istana Keluarga Kecil ini

0 Komentar:

Posting Komentar