Jumat, 30 Mei 2014

Bukittinggi, Bukit Wisata Pencetak Sang Proklamator Indonesia!

Bung Hatta
Oleh : Iwan Fals

Tuhan terlalu cepat semua 
Kau panggil satu-satunya 
yang tersisa 
proklamator tercinta
Jujur lugu dan bijaksana 
Mengerti apa yang terlintas 
dalam jiwa
rakyat Indonesia

*
Hujan air mata 
dari pelosok negeri 
Saat melepas engkau pergi
Berjuta kepala tertunduk haru 
Terlintas nama seorang sahabat
yang tak lepas dari namamu

**
Terbayang baktimu
Terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa 
Sederhanamu
Bernisan bangga, berkafan do'a 
dari kami yang merindukan orang 
Sepertimu
Bung Hatta, Sang Proklamator memang telah wafat sejak 14 Maret 1980 lalu. Namun tetap semangat ruh perjuangan beliau tetap ada hati masyarakat Indonesia. Termasuk di hati seorang Masram. Saya sangat terinspirasi dengan segala perjuangan akademik, organisasi, kereligiusan, kesederhanaan, dan nasionalisme beliau.
18 November 2014 merupakan sebuah sejarah traveleta bagi saya. Paling berkesannya karena itu adalah awal saya mencicipi terbang dengan pesawat terbang. Bagi seorang anak desa, terbang adalah mimpi besar. Dan jika terwujud itu adalah sebuah anugerah terindah.
Dalam tajuk sebagai wakil universitas untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional di Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, akhirnya saya mempunyai cerita baru. Terbang dari Bandara Internasional Soekarno Hatta dan menuju destinasinya Bandara Internasional Minangkabau. Indahnya bibir pantai yang terabit beberapa pulau kecil adalah sambutan pertamaku sebelum mendarat di tanah Minang. Dari sambutan itu, saya sangat percaya dengan pelajaran sewaktu Sekolah Dasar yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan.
Selepas kegiatan presentasi dan seminar yang cukup melelahkan, tiba-tiba sayuk-sayuk panitia mengumumkan bahwa kegiatan selanjutnya adalah field trip. Bak, matahari di tengah dinginnya malam, pengumuman ini dengan pasti membuat saya bahagia, termasuk finalis lainnya juga. Tujuan utamanya adalah Bukit Tinggi. 



Di atas bus kampus UNP, kami melaju menuju Jam Gadang ada. Lika-liku jalan sudah sangat biasa buat saya, maklum di daerah saya pun jalannya juga sama. Mendaki gunung, menuruni lembah, dan tak semudah serta sependek yang ada di Ninja Hatori. Di tengah perjalan, teman panitia yang memandu kami, menceritakan apa pun yang ada di sekitar jalan. Sebelum sampai di Padang Panjang, ada Rumah Puisi seorang maestro mahakarya puisi Indonesia, Taufiq Ismail. Ada juga komplek pesantren yang katanya pernah buat syuting film terkenal di Indonesia. Dan saya juga menemukan sebuah nama yang sering saya denger sebagai nama warung makan Padang, yaitu Lembah Anai. Sebuah air terjuan di antara dua bukit dan sangat dekat sekali dengan jalan raya. Sangat eksotik dan natural. Satu lagi, jalur rel dan jembatan tua yang membelah perbukitan Padang Panjang adalah saksi kunci bahwa kereta api pernah merayap di sana. 



Tenyata saya salah berimajinasi, tujuan pertama kami adalah Lobang Jepang atau Goa Jepang. Goa ini terletak di Ngarai Sianok, Taman Panorama, Bukit Tinggi. Goa ini merupakan sebuah bunker peninggalan Jepang ketika menjajah Indonesia pada 1942. Tiketnya sangat bersahabat, IDR 5 K. Ketika masuk kita dipandu oleh pemandu yang sekaligus akan menjelaskan beberapa sejarah dari Goa tersebut. Ceritanya cukup menyeramkan dan sempat juga membuat kami sedih, betapa tidak? Banyak rakyat Indonesia yang dipakasa bekerja dan ditahan di sana sampai meninggal dunia. Semoga Tuhan menerima segala kebaikanmu wahai Pahlawan Bangsa. 


Destinasi selanjutnya adalah Jam Gadang, sebuah jam berukuran besar dan telah menjadi kebanggaan masyarakat Bukittinggi. Luar Biasa, saya sendiri terpana melihat kemegahan Jam Gadang. Benar yang dikatakan banyak orang, jam ini mempunyai misteri sendiri dalam penulisan angka Romawi 4. Senang sekali dapat melihat sendiri misteri itu. Setelah puas berkeliling di Jam Gadang, saya berniat untuk berbelanja oleh-oleh. Ternyata tidak jauh dari Jam Gadang, tepatnya di belakangnya, terdapat sebuah pasar yang menjadi pusat perbelanjaan oleh-oleh. Namanya adalah Atas bawah. Pasar ini terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu Pasar Atas, Pasar Lereng dan Pasar Bawah. Komplit sekali oleh-oleh yang ditawarkan di pasar ini. Semakin lama mengelilinginya, naluri saya semakin tidak kuat untuk tidak membeli buah tangan. Sangat menarik perhatian dan harganya punu juga bersahabat. Cocok untuk kantong seorang mahasiswa. 




Akhirnya, di akhir berpoto ria di Jam Gadang, tepat nya di sisi jalan raya, saya menemukan sebuah rumah istimewa. Banyak orang yang menyebutnya sebagai Isatana, walaupun pemiliknya enggan untuk itu. Sempat terdiam tertegun ketika saya benar-benar di depannya, inilah kediaman Proklamator Kebanggaan masram, Istana Bung Hatta. Saya susuri dari ujung ke ujung, sayang sekali tidak ada pintu masuk waktu itu. Apakah memang tidak dibuka untuk umum atau bagaimana saya pun kurang tahu. Yang jelas, saya sudah sangat bahagia berada di depan Istana. Bisa berfoto dengan replika patung Bung Hatta dan Gerbang Istananya semoga dapat menjadi motivasi lebih untuk dapat melanjutkan perjuangan beliau. 





Backpacker bermodal gagasan dan karya tulis saya di Bukittinggi sudah berakhir. Banyak sekali memori yang tidak mengupa dari hati dan pikiran saya. Ingin sekali lain kesempatan diantarkan kembali ke sana, untuk melihat dan menikmati betapa indahnya sebuah bukit di penghujung barat Indonesia ini. Alam bangsaku memang tidak ada duanya di dunia, kami bangga dilahirkan di sini, dan kami berani cinta serta berani berbuat untuk kebaikan Indonesia!.  

*Tulisan ini diikutsertakan Lomba Blog Telkomsel Flash #GetStranded. Berikut adalah link lombanya : http://internet.telkomsel.com/getstranded/#intro

Sabtu, 10 Mei 2014

Onde-Onde sebelum “Politik Paralel”

Onde-onde itu jajanan yang tak tergantikan bagiku, ya bagi seorang masram. Sahabat tahu betapa tidak mudahnya bikin onde-onde? Dan saudara tahu betapa nikmatnya gigitan pertama untuk sang onde-onde? Oleh karenanya, seringkali saya bekal onde-onde yang banyak ketika berangkat dari kampung halaman. Beda daerah ternyata beda cita rasanya. Ibu-ibu pinggir pasar di kampung saya ternyata lihai meracik onde-onde yang menggoyang lidah walaupun hanya dibanderol dengan harga lima ratus rupiah. Lama gak pulang lagi ke Purwantoro, saya jadi kangen onde-onde pintu masuk pasar itu. Dulu sewaktu SMA saya kurang mengenal tentang pentingnya belajar rangkaian listrik. Sekilas dipelajari di mata pelajaran fisika. Gurunya yang juga merangkap menjadi dosen, secara perlahan juga membuat saya semakin merasa kesulitan akan mapel fisika. Luar biasanya, sekarang malah mengambil program studi Pendidikan Teknik Elektro. Jadi, Rangkaian Listrik adalah kewajiban edukasi bagi saya. Sederhananya tentang rangkaian seri dan paralel. Kalau seri itu hambatannya akan semakin besar. Dan paralel itu belum tentu semakin besar hambatanya, kadang-kadang ada yang menjadi semakin kecil hambatannya. Pernah di awal semester belajar tentang mata kuliah umum yang menyinggung tentang filosopi. Nah, saya ada pendapat untuk berhati-hati dengan karakter berbeda pada beberapa teman seperjuangan. Tidak memungkiri, ada suatu upaya “politik paralel” diantara mereka. Karakter dan wujud pendekatan mereka terhadap kita memang berbeda, namun jika benar maka perbedaan itulah yang akan semakin membuat kita bingung dan tidak sadar. Akibatnya kita secara perlahan akan masuk dalam permainanan pencapaian tujuan mereka. Prinsip mereka adalah semakin banyak elemen paralelnya, maka semakin kecil hambatan yang akan dilalui. Dan hambatan itu bisa jadi adalah kita. Wow, ternyata selain ujian di kelas, saya agak bisa ya mengkorelasikan pembahasan mata kuliah dengan gaya hidup. Mayoritas organisasi di kampus sudah ada garis besar di belakang anggaran dasar. Itu menurut saya, beda lagi menurut sahabat. Jadi, berhati-hati dan be happy sudah cukuplah. Bertele-tele sekali saya bercerita, yang jelas tetap tidak akan mengurangi rasa onde-onde yang khas itu. Apapapun yang telah mereka lakukan, saya tetap suka makan onde-onde. Walaun waktu itu saya lebih banyak kerjanya daripada makan onde-onde. Ternyata filosopi “kerja tutup gendang” itu lebih baik. Saya malu karena terlalu nyaring dari dalam. Semoga saja saya tetap menyukai disiplin ilmu yang telah saya pilih dan tentunya selalu berusaha agar tidak merasa rugi. Berbahagia sentosa!