Senin, 31 Maret 2014

Mengelola Sampah Sedari Dini!

Lingkungan? Apa yang ada dibenak Saudara ketika mendengar tuh kata “Lingkungan”? Ow, saya yakin deh salah satunya pasti ada kata “Sampah” yang muncul. Ora piye tho?, Zaman sekarang nih sampah terus meningkat elektabilitasnya bak seseorang yang tersohor, bahkan kalau disurvei secara independen dapat diprediksi bahwa sampah tuh pasti di rentang 5 besar permasalahan Lingkungan. Nah saudara-saudara se bangsa, setanah air, dan tentunya se- BLOGGER. Dalam rangka mengikuti kontes Blog yang diadakan WWF Indonesia yang bekerjasama dengan Blogdetik dengan tema Blogger Peduli Lingkungan ini, izinkanlah saya (sebut saja Masram) berbagi gagasan cemerlang bak Suringlang diapit Layung Senja sekaligus berpartisipasi aktif dalam kampanye #IngatLingkungandengan Judul Gagasannya adalah “Mengelola Sampah Sedari Dini!”. Masram tidak sendiri dalam mencetuskan Gagasan ini, ditemanin teman satu Geng dari sebuah Kelompok Keilmiahan di Kampus kami bersama mengkreasikan sebuah gagasan solutif untuk permasalahan Sampah. Thanks a lot for my the best partner, Sdri. Nurul A. dan Sdri. Rina F. Eh ada yang protes dengan penggunaan kata Dini?, maaf Saudara. Dini yang dimaksud bukan tetangga Masram, Tetangga Saudara, ataupun bahkan Saudari Blogger. Ini hanyalah sebuah istilah lain yang berarti “Saat masih Kecil atau anak-anak”. Okelah Cekidot gagasan Masram yang dikemas dalam keseriusan berbaur data dari sumber yang dapat dipercaya.
Permasalahan mengenai pengelolaan sampah merupakan masalah klasik yang tidak kunjung terselesaikan. Kesan negatif dan rendah terhadap sampah merupakan salah satu penyebab kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengelolanya secara mandiri. Menurut WHO, sampah didefinisikan sebagai sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya (Candra, 2007). Sebagai sesuatu yang tidak digunakan yang notabene disebabkan oleh kegiatan manusia maka sudah seharusnya sampah diolah secara mandiri oleh yang bersangkutan. Sebagai bagian yang tak terparsialkan dari kehidupan manusia, sampah bergerak sebanding dan linier dengan perkembangan manusia itu sendiri. Mulai dari meningkatnya jumlah populasi maupun perubahan gaya hidup manusia. Hal lain yang mempunyai andil dalam bertambahnya volume sampah selain alur kehidupan manusia antara lain seperti sistem pengelolaan sampah, keadaan geografi, musim dan waktu, teknologi serta tingkat sosial ekonomi masyarakat. Dari beberapa hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa semakin kompleks alur kehidupan manusia, terutama di kota-kota besar maka sudah dapat dipastikan bahwa jumlah sampah juga akan terus bertambah.
Sebagai sampel adalah volume sampah di DKI Jakarta. Menurut Dinas Kebersihan DKI, volume sampah di Jakarta rata-rata sekitar 6.000-6.500 ton perhari. Jumlah ini selaras dengan tingkat populasi dan alur kehidupan di Kota Jakarta. Dalam skala nasional, Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar 122 tempat sampah seukuran gelora Bung Karno (GBK) setiap tahunnya untuk menampung sampah yang tidak terangkut. Di lain kesempatan, BAPPENAS juga memberikan keterangan melalui Direktur Perumahan dan Pemukiman bahwa volume sampah di Indonesia mencapai 1 juta meter kubik setiap hari, namun baru 42% diantaranya yang terangkut dan diolah dengan baik. Jadi, sampah yang tidak terangkut sekitar 348.000 meter titik atau sekitar 300 ton setiap harinya. Data ini merupakan cerminan mengenai tata kelola sampah yang belum optimal. Faktor inilah yang menjadikan masalah pengelolaan sampah dijadikan prioritas pada umumnya di pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah. Beberapa upaya telah digencarkan oleh pemerintah untuk mengatasi permasalahan sampah. Mulai dari finansial sampai berbagai program telah digalakkan oleh pemerintah. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menganggarkan dana Rp 800 miliar setiap tahun untuk membangun 250 tempat pembuangan akhir (TPA) di seluruh wilayah Indonesia selama kurun waktu lima tahun. Program tersebut telah tertuang dalam RJPM sehingga harus dilaksanakan dan diharapkan rampung sampai tahun 2014. Di sisi lain, pemerintah juga gencar melibatkan masyarakat secara aktif untuk gotong royong mengelola sampah. Salah satunya dengan meluncurkan program Bank Sampah. Bank ini merekrut masyarakat sebagai nasabah dan menyetorkan tabungan berupa sampah yang sudah di pilah-pilah berdasarkan jenisnya. Nasabah akan mendapatkan keuntungan setelah sampah berhasil di daur ulang menjadi bahan bernilai jual.
Beberapa upaya di atas dirasa belum optimal mengingat semakin hari volume sampah semakin meningkat. Sudah seharusnya masalah sampah menjadi masalah semua pihak, tidak hanya mengandalkan pemerintah pusat maupun daerah. Semua elemen masyarakat mempunyai andil besar dalam penanganan masalah ini. Di sisi lain kesadaran akan pola hidup bersih juga cukup berperan penting dalam permasalahan sampah. Sudah diketahui bersama bahwa untuk menciptakan suatu kesadaran khususnya sadar lingkungan tidak tercipta secara intan dan cepat. Perlu proses pendidikan yang bertahap dan berkelanjutan. Berlandaskan pemikiran inilah Masram mempunyai sebuah gagasan guna memperkenalkan aspek kesadaran dalam bidang lingkungan khususnya dalam pengelolaan sampah semenjak usia dini. Gagasan tersebut masram tuangkan dalam sebuah program yaitu Program Pelajar Sahabat Sampah (PS2) Sebagai Upaya Pengenalan Dini Manajemen Pengelolaan Sampah Kepada Siswa Sekolah Dasar”. Program ini merupakan solusi aplikatif atas permasalahan kurangnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri. Dengan pendidikan manajemen sampah sedini mungkin, diharapkan anak-anak di setiap jenjang usianya bahkan sampai dewasa mempunyai kepekaan akan sadar lingkungan dan berusaha semaksimal mungkin untuk menciptakan kondisi lingkungan yang bersih, rapi dan tertata.
Program Pelajar Sahabat Sampah (PS2) merupakan program baru yang dapat dijadikan solusi aplikatif untuk menumbuhkan kesadaran yang diimbangi komopetensi masyarakat sedini mungkin dalam pengeloaan sampah. Program ini menjadikan anak-anak di jenjang sekolah dasar sebagai objeknya. Mulai dari kelas satu sekolah dasar sudah diperkenalkan tentang  pola mengelola sampah yang baik dan benar melalui program ini. Di lain sisi, program ini juga bertujuan untuk mengubah paradigma masyarakat mulai dari usia anak-anak bahwa sampah yang pada awalnya sampah dianggap sesuatu yang negatif dan hanya dibersihkan oleh tukang sampah, maka dengan adanya program ini paradigma tersebut mulai luntur dan muncul suatu konsekuensi tanggung jawab bahwa sampah adalah tanggung jawab bersama. Berikut adalah model pelaksanaa teknik Program Pelajar Sahabat Sampah. 


Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang dilimpahkan pada Dinas Pendidikan di setiap daerah yang bersangkutan, meluncurkan Program Pelajar Sahabat Sampah (PS2). Pemerintah juga menghimbau ke setiap sekolah dasar bahwa Program PS2 adalah program wajib yang harus dilaksankan di setiap sekolah. Hal ini dapat diperkuat dengan dibuatkannya dasar hukum seperti pereturan pemerintah. Pemerintah juga harus bersinergi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) khususnya yang berada di bidang sosial lingkungan. Sinergi ini sangat diperlukan guna penyatuan gagasan sehingga terjadinya suatu kekompakan padu dalam menjalan Program PS2 bersamaan.
Manfaat yang ingin dicapai dari program ini adalah munculnya kesadaran masyarakat sedari dini atau semenjak usia anak-anak di jenjang sekolah dasar akan pentingnya mengelola sampah guna terciptanya lingkungan hidup yang asri dan bersih. Sudah pasti bahwa kesadaran yang ditimbulkan juga dibarengi dengan kompetensi dalam mengelola sampah secara mandiri. Selanjutnya, luaran khusu dari program ini disebut dengan Pelajar Sahabat Sampah. Pelajar luaran dari program ini mempunyai kompetensi mandiri dalam mengelola sampah  yaitu, a). Mampu menyusun rencana manajemen pengelolaan sampah. b). Mampu menjalankan rencana yang dibuat dan mampu menemukan solusi ketika menghadapi kendala dalam pelaksanaanya. c). Mampu mengevaluasi manajemen pengelolaan sampah yang telah dilaksanakan. d). Mempu berinovasi dalam upaya pengembangan lebih lanjut pola pengelolaan sampah.
Nah, semoga saja gagasan ini dibaca oleh pihak yang berwenang untuk mengimplentasikannya. Namun tak lah elok ketika kita hanya duduk diam tanpa pergerakan apapun. Kita Boleh Punya Mimpi yang Besar, namun tanpa Tindakan Mimpi Kita tidak akan Bergerak Kemana-mana. Mulai dari lingkungan terkecil, kepada sanak saudara kita, adik-adik kita, mari kita beri contoh untuk sebuah upaya pendidikan sadar lingkungan dengan konsep Learning by Doing. Di akhir, Masram ucapkan terima kasih kepada WWF Indonesia dan Blogdetik, sebuah kesempatan emas bagi Blogger untuk menyampaikan gagasannya dalam Tajuk Lomba Blog #IngatLingkungan ini. Lingkungan Indonesia akan Asri, Jika Masyarakatnya pun Berperilaku Asri. Salam Muda Hebat Muda Bermanfaat! 


Oh iya, Selain Buang Sampah pada tempatnya, Mari Menanam juga ya Saudara/ri. 
Karena Menanam itu Bukan hanya Tugas Pemerintah saja, Apalagi Tugas Pak Kades saja. Namun tugas Kita Semua!