Selasa, 17 Juli 2012

Logical is Being Loosed

Logical is Being Loosed

Pagi yang cerah. Matahari bersinar terang, bunga-bunga bermekaran, di kiri kanan jalan rumput-rumput hijau melambai lembut, seakan berbisik pada Ijah, “Deskripsi settingnya kayak cerita SD”. Gadis kelas XI itu melangkah cepat, pijakannya begitu mantap menuju gerbang sekolah. “Kamu lagi! Sudah berapa kali telat, kamu?” sapa Satpam sekolah Ijah ‘lembut’.

“Eh, Bapak... Duluan ya, Pak, ada ulangan…!!!” teriak Ijah sambil lalu, diburu waktu. Teman-temannya pasti sudah mengerjakan soal ulangan Matematika sepuluh menit yang lalu. Sebenarnya Ijah nggak salah 100% dalam urusan telat begini, selalu ada kompilasi minibus, lampu merah, kasur empuk, dan hal-hal lain yang biasa dikombinasikannya menjadi alasan masuk akal atas keterlambatannya.
“Huufft…” gadis bernama lengkap Azizah –biar imut, dipanggil Ijah- itu mendengus pelan, menatap deret angka yang bervariasi indah dengan kata-kata “Lim”, sin, cos, tan, dan simbol lain yang menggambarkan dengan jelas bahwa hari itu ada ulangan Limit di kelas XI A 7.
“Elo dapat soal apa?” bisik Dion pelan, melirik soal Ijah. “Humpf…” batinnya, mendapati huruf B besar di pojok kanan atas soal Ijah, beda dengan miliknya yang bertuliskan huruf A. Gadis itu cemberut sejenak, sebelum melanjutkan pekerjaannnya. Wait! Jangan negative thinking dulu sama Dion, berhubung nggak ada korelasi antara nama dan wajah cantik atau jilbabnya. Nama asli Dion memang Dion, bukan Diana atau Dian, yang karena dia tomboy berganti Dion. Dulu dokter bunda Dion mengklaim bahwa kandungannya pasti laki-laki, yang menghasilkan rancangan nama Syaiful Dion Pratama (nama yang aneh). Tapi, berhubung bayi yang lahir ternyata memiliki hormon kewanitaan yang mutlak dan wajah cantik –yang tidak mutlak- akhirnya rancangan itu direnovasi menjadi Selyn Dion Prastiwi (tetap aneh).
“Praas, bantuin gue, plisss… Elo kan calon dokter, plisss?” Ijah memohon aneh pada Dion.
“Please deh, nggak usah panggil-panggil gue ‘pras’ begitu? Nama gue Dion! Lagian nggak ada hubungannya calon dokter ngerjain soal ulangan temannya.”
“Ya jelas ada, lah Pras! Secara ya, Pras, misi dokter kan buat nolongin orang yang kesusahan, sakit gitu, ya kan Pras? Otak gue juga lagi sakit nih Pras, gue nggak tega nyuruh dia kerja terlalu berat, Pras. Sebagai calon orang yang bermisi menolong sesama nih Pras, elo musti latihan, Pras. Nah Pras, kayak begini nih Pras, salah satu media—“
“Bilang ‘pras’ sekali lagi dapat mangkuk!”
“Ayolah Praas… helep mi…!!!” ucap Ijah lebay dengan aksen bule yang jelek banget. “Lhoh? Mangkuknya mana, Pras?” katanya lagi, menyadari Dion nggak merespon ucapannya.
“Kerjakan sendiri!” tanpa mengeluarkan suara, guru matematika mereka menulis kalimat itu di papan tulis, bermaksud menyindir para siswa yang mencoba memanfaatkan relasi mereka, bisnis gitu. Tapi malang bagi guru itu, sindirannya nggak mempan buat Ijah sebelum satu jeweran mendarat di telinganya. Huuh…
“Sebenarnya aku capek sama prolog cerpen ini, Pras. To the point aja deh, tunjukin ekspresi sedih, gitu!” kata Ijah maksa, membuka dialog saat istirahat. Menangkap kode Ijah, mendadak Dion pasang ekspresi sedih sarat depresi.
“Elo kenapa, Pras?” tanya Ijah lebay, Dion diam.
“Pliss deh Praas, cerita sama gue. Nggak biasanya elo kayak gini. Gue sahabat elo, kan? Cerita dong, sama gue…” dengan sepenuh hati, wajah serius yang memaksa berhasil meyakinkan Dion bahwa akting temannya lumayan… lumayan merusak penonton, dan berhubung durasi baca cerpen ini semakin sempit, akhirnya Dion angkat telepon, karena tiba-tiba ada panggilan.
“Assalamu’alaikum…”
… … …
“Iya, Bun. Walaikum salam…”
“Oh, my God! Elo ditelepon Buncit, anak IPS 4 yang super gendut itu?” Ijah, yang begitu menyebalkan nggak bisa menangkap sinyal “I’m sad” dari Dion, justru bertanya haru.
“Durasi, Jaah!” Dion, yang di cerpen ini sebenarnya berwatak lembut terpaksa meninggikan volume suaranya guna menyadarkan Ijah tak ada waktu lebay lagi di cerpen ini, berhubung inti cerita akan segera disampaikan.
“Okaaii…” Ijah memberi kode yang berarti “I got it”.
“Gue sedih, Jah.”
“Kenapa? Cerita dong, sama gue. Gue ini sahabat elo, Pras… telinga gue akan selalu siap buat dengerin cerite elo. Bahu gue akan selalu siap jadi sandaran elo, tangan gue akan selalu siap menghapus air mata elo. Bahkan, kalau perlu, persediaan tisu toilet gue akan gue persembahkan buat elo, kalau raga ini tak lagi sanggup ada di sisi elo. Itu kan, gunanya sahabat, Pras? Selalu ada di saat sedih dan senang, dan itu bukan sekedar teori gue lho, Pras. Gue harap elo bisa—“
“Kapan gue ngomong?” potong Dion sebal, tapi tetap mempertahankan ekspresi sedihnya.
“Maaf, Pras. Gue ikut sedih kalau elo sedih, brader…”
“Gue mau pindah sekolah. Persyaratannya udah kelar, mungkin minggu depan, atau lebih cepat,” ucap Dion kalem.
“APA?!!!” jerit Ijah dalam hatinya (susah banget melakukannya), berhubung guru Fisika sudah memasuki kelas. Sebelum Dion sempat menjelaskan alasannya, tanpa ia sadari air mata Ijah menetes deras.
“Ayahku kehilangan banyak pasien semenjak ada ‘itu’.”
“Maaf banget, Pras. Gue udah coba hubungi orang tua gue. Insya Allah dua hari lagi mereka sampai ke sini. Sabar ya, Pras. Jangan pindah dong Pras, pliss… Gue bakal musnahin ‘itu’!” Ijah tahu pasti apa ‘itu’ yang dimaksud Dion: pohon beringin besar di depan rumah barunya di dekat kompleks rumah Dion. Konon, sejak pembangunan rumah Ijah, pohon beringin yang katanya sudah hampir mati –masyarakat menyebutnya ‘lagi sakit’- itu tiba-tiba punya semangat hidup lagi. Bahkan, dari tubuh pohon itu mengeluarkan air mata –saking terharunya- secara kontinu. Parahnya, tetangga-tetangga Dion yang semula modern mendadak primitif masal.
Kabarnya, setelah mencuci muka menggunakan air yang keluar dari pohon itu, penyakit salah satu tetangga Dion jadi sembuh. Padahal Dion dan Ijah tahu pasti kalau sebelum berbasuh menggunakan “air sakti” itu, tetangga Dion tersebut baru saja berobat dari rumah Dion (ayah Dion buka praktik dokter, red). Entah kenapa, penjelasan Dion diacuhkan. Bahkan, keluarganya kini menghentikan “usaha menyadarkan masyarakat”, khawatir dianggap promosi Dokter Pratama, ayah Dion. Makanya, ayah Dion yang kehilangan banyak pasiennya memutuskan pindah, selain karena dinasnya dipindahkan ke luar kota.
“Apa nggak bisa negosiasi sama penduduk lagi, Pras?”
“Udah kita stop. Takut dikira promosi Ayah,”
“Gue heran sama Indonesia. Hari gini? 2009, gitu? Masih aja masyarakat kita percaya sama hal-hal begituan. Emangnya puskesmas, rumah sakit, atau dokter-dokter kurang, ya? Sampai dibela-belain antri di pohon beringin buat pengobatan? Soal air itu… gimana nggak keluar? Secara, air yang dipake buat pembangunan rumah gue letaknya pas dibelakang pohon itu, dekat banget sama akarnya. Berhubung tertutup pagar aja, makanya mereka nggak tahu. Tapi kan udah gue jelasin, udah gue suruh periksa sendiri, malahan! Nggak habis pikir, gue!”
“Iya,” jawab Dion singkat, menyebalkan.
“Gara-gara si Ponari, nih! Coba kalau dia nggak mulai expose batu yang kesambar petir itu! Kayak gini kan, hasilnya? Pada musyrik semua! Ada lagi tuh, ibu-ibu, jilbaban pula! Gue pikir ngerti agama, eh… malah bilang kalau diikutin batu yang nangis, bisa ngomong, minta tolong, dan sebagainya… Akhirnya gini nih, syirik everywhere! Pohon segala disangkut-pautin!”
“Iya,”
“Coba konfirmasi ketua RT elo, Pras. Barangkali bisa?”
“Pak RT malah ikutan. Harus ada pemiliknya, katanya,” jawab Dion menatap Ijah, menghasilkan perasaan bersalah di hati Ijah. Dengan berkedudukan sebagai anak pemilik pohon, secara tidak langsung dirinya telah membiarkan praktek kemusyrikan alias penyekutuan Tuhan di sekitarnya. Padahal, berdasar pelajaran agama yang didapatnya sewaktu SD, SMP, dan SMA, musyrik adalah dosa besar, bahkan diklaim nggak bisa dimaafkan.
“Emm… Pras, elo kan Insya Allah ngerti agama… Emm, jadi beneran nggak boleh ya, berobat sama begituan? Sekedar coba-coba, gitu? Kali aja takdir kita sembuh dari Allah emang lewat begituan, jadi… yang ‘begituan’ itu yang jadi perantaranya, semacam dokter, atau obat, gitu lah… gimana?” tanya Ijah pelan, mulai ragu dengan prinsipnya.
“Nggak ada kompromi buat urusan agama. Dokter atau obat beda banget sama ‘begituan’. Mereka pakai analisis medis, ada dasarnya. Kalau pohon? Batu? Pakai logika juga nggak sampai nalar, Jah. Mereka aja yang udah nggak logis!” Dion mulai emosi. Ijah diam.

“Yon, pernah nggak elo mikir,” kata Ijah sepulang sekolah. Menggunakan panggilan Dion dalam ucapannya berarti dia sedang berusaha serius.
“Apa?” ucap Dion yang hobi rese dengan menjawab singkat.
“Kalau gue perhatiin, mayoritas penduduk yang berobat pake hal-hal ‘begituan’ biasanya dari kalangan menengah ke bawah. Mungkin, mereka berobat ‘begituan’ karena desakan ekonomi juga, menurut gue. Tahu sendiri kan, meskipun rumah sakit dan dokter di negara kita melimpah, dana kesehatan untuk masyarakat miskin masih aja minim. Yah, bagi mereka yang pemahaman agamanya kuat mungkin nggak akan pilih jalan itu. Tapi, berapa persen sih, mereka? Yang banyak juga penduduk miskin yang butuh pengobatan, tapi rumah sakit menolak mereka. Maaf Yon, kalau gue nyinggung profesi ayah elo sebagai dokter.”
“Nggak.”
“Jadi, menurut elo?”
“Bentar lagi pemilu,”
“So?” tanya Ijah nggak ngeh.
“Ayo pilih pemimpin dan wakil rakyat yang bisa memahamkan masyarakat dan meningkatkan tingkat kesehatan! Benar-benar meningkatkan, maksud gue.”
“Oh iya, ya? Tantangan buat para pemimpin kita. Biar nyadar, masyarakat begini juga karena banyak dana jaminan sosial yang disulap sama mereka.”
“Ayo contreng nomor 100!” teriak Dion asal.
“Eh? Ogah ah, gue belum cukup umur, elo aja yang udah tua! Hahaha…”

Dua minggu kemudian, besertaan dengan kepulangan orang tua Ijah, pohon beringin di depan rumah baru mereka ditebang. Setelah sosialisasi yang cukup melelahkan dengan warga, akhirnya warga mencoba mengerti… mengerti untuk berpindah alternatif lain.
Keluarga Dion tetap pindah. Malangnya, tempat dinas ayah Dion sekarang masih belum jauh-jauh dari kepercayaan okultisme, animisme, dinamisme, dan isme-isme lain yang mengkultuskan benda-benda tertentu. Selain bertetangga dengan Ponari, ada teman perempuan dukun kecil itu yang kabarnya juga memiliki ‘batu seperti milik Ponari’. Huuh!
Masyarakat belum berubah, harga berobat secara normal dan elegan pun masih stagnan (mahal) seolah pengobatan ‘pantas’ seperti itu hanya milik kaum elit. Mereka yang menjadi penduduk kawasan marginal, hanya bisa memilih berobat ‘alternatif’, atau mengikat prinsip mereka, pasrah pada kematian. Toh semua sudah terjadwal dengan rapi dariNya.

NaSHa ^.^
Rock Your Voice!!!
Azhar Memories 

0 Komentar:

Posting Komentar