Rabu, 30 Mei 2018

Optimalisasi Program Citarum Harum melalui Pelibatan Duta Lokal di setiap Daerah Aliran Sungai Citarum

Optimalisasi Program Citarum Harum melalui Pelibatan Duta Lokal di setiap Daerah Aliran Sungai Citarum
Oleh :
Agus Ramelan

*Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti WRITINGTHON (WRITING-MARATHON), yaitu Sebuah event kepenulisan yang terinspirasi dari Hackaton (Hacking-Marathon). Para peserta akan dikarantina dan diberikan tantangan kepenulisan. Output dari program ini ialah buku yang disusun secara kolektif oleh para peserta Writingthon. Kalian juga bisa ikut dengan klik di : http://bitread.id/writingthondikti/. Selamat Mencoba! 

Citarum di Tanah Legenda  
Sungai Citarum adalah salah satu contoh warisan berharga para legenda Jawa Barat. Dalam naskah Bujangga Manik, Citarum berasal dari kata Ci yang berarti air dan Tarum yang berari tanaman yang menghasilkan warna biru. Dahulu Sungai Citarum merupakan batas kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda1. Hulu Sungai Citarum berasal dari sebuah situ yang sangat indah dan alami, yaitu Situ Cisanti. Pada situ ini terdapat  mata air yang merupakan cikal bakal Sungai Citarum yang mengalir sepanjang kurang lebih 290 km dan membelah beberapa wilayah di Jawa Barat. Mata air Citarum dan Cisanti mempunyai kisah sejarah spesial yaitu mengenai Prabu Siliwangi, sang Raja Kerajaan Padjajaran di tanah parahyangan.


Konon kedua mata air tersebut merupakan patilasan dan lokasi favorit sang Prabu untuk membersihkan badan2. Tak heran jika saat ini lokasi tersebut menjadi wisata alam dan sejarah yang cukup tenar di Kabupaten Bandung Barat.
Masih ingat dengan semboyan PON XIX/2016 yang berbunyi “Berjaya di Tanah Legenda”? Tema itu diusung dengan tujuan menghormati capaian gemilang para legenda di Jawa Barat. Baik legenda di dunia olah raga, legenda pergerakan pahlwan, sampai legenda para leluhur Jawa Barat. Dalam naskah Galunggung tertcantum “Hana nguni hana mangke, tan han nguni tan hana mangke” yang berarti tiada masa kini tanpa ada masa lalu, masa kini adalah peninggalan masa lalu3. Dari kalimat bersejarah ini, seharus kita mengambil sebuah makna bahwa penghromatan harus kita berikan kepada para legenda, mereka yang mewariskan segala potensi Jawa Barat yang subur alamnya, dan ramah masyarakatnya. Upaya itu tentu saja termasuk dengan menjaga kelestarian Sungai Citarum. Lalu, bagaimana kondisi Sungai Citarum saat ini? 

Citarum, Kondismu Kini
Siapa yang tidak tahu kemegahan Sungai Citarum? Bahkan tidak sedikit warga asing yang berbondong-bondong ingin melihat langsung “kehororan” sungainya dan “keanehan” sekaligus “kekuatan” warganya untuk bertahan hidup di sekitar aliran Sungai Citarum. Secara fisik, sungai ini merupakan sungai terpanjang di Provinsi Jawa Barat. Sungai ini mengaliri 5 daerah aliran sungai (DAS), 9 kabupaten, dan kota. Sebagai sungai terpanjang, Citarum memiliki potensi air yang besar. Sehingga masyarakat di daerah alirannya menopangkan lehihudapannya pada sungai ini. Total potensi air di wilayah sungai Citarum adalah sebesar 13 milyar m3/tahun. Potensi air yang sudah dimanfaatkan sebanyak 37.5 milyar m /tahun (57.9%) dan yang belum dimanfaatkan 5.45 milyar m3/tahun (42.1%)4. Lebih dari itu, Sungai Citarum menjadi penopang utama kebutuhan air bagi masyarakat di kabaputen/kota yang dilaluinya.
Sejuta potensi Sungai Citarum ternyata tak mampu merayu masyarakat untuk memperlakukannya sebagai “tuan putri”. Justru, Ia malah diperlakukan sebagai “tempat sampah” yang setiap hari dihujam dengan sampah yang kotor dan berbahaya. Memang, “tuan putri” tidak marah besar, namun air mata nya terkadang meluap juga karena tidak tertahan. Ironi memang, Ia memberi manfaat tanpa henti malah dibalas dengan air tuba. Begitulah, kondisimu kini oh Sungai Citarum.
Permasalahan Sungai Citarum berada di tingkat yang sangat komplek dan saling terkait antara satu masalah dengan masalah lainnya. Majalah The Sun, 4 Desember 2009, telah menobatkan Sungai Citarum sebagai salah satu sungai terkotor di dunia. Penobatan ini sudah mendengung sampai ke seluruh pelosok negeri ini. Bukan hanya kita saja yang prihatin, orang asing pun ikut menunjukkan sikap simpati terhadap kondisi ini. Masih ingat dua orang bule perancis yang mendayung kayak dari botol plastik bekas di Sungai Citarum?

Kakak beradik Gary Bencheghib dan Sam Bencheghib memulai perjalanan menyusuri salah satu sungai terkotor di dunia, Sungai Citarum. Tujuan mereka bukan untuk wisata atau adu nyali semata, namun ingin menyadarkan masyarakat betapa berpolusi dan berbahayanya Sungai Citarum saat ini. Gary dan Sam juga berupaya, membagikan pengetahuan, jika sungai tersebut menjadi lokasi terbesar penyumbang sampah yang bermuara di laut atau perairan di Indonesia. Aksi tersebut mereka kemas dalam sebuah video dokumenter dan diupload di internet dengan hastag #PlasticBottleCitarum. Konon, video ini terdengar sampai ke Istana dan mendapatkan respon yang cukup serius.
Kedua pemuda perancis tersebut bukan lah satu-satu nya orang asing yang peduli terhadap Sungai Citarum. Pada 2014 silam, sebuah chanel youtube bernama “Unreported World” membuat sebuah film dokumenter dengan terjun langsung ke Sungai Citarum. Seyi Rhodes, reporter yang diutus terjun ke sungai, ke kampung-kampung di sekitar Citarum, industri pemasok limbah industri, dan juga berdiskusi langsung dengan LSM yang intens dalam menjaga kelestarian Sungai Citarum. Untuk membuat dokumen pembuktian, Seyi melibatkan peneliti untuk mengambil sampel air di Sungai Citarum dan mengujinya di laboratorium. Hasilnya sudah diduga, air sampel tersebut mengandung toxic yang sangat berbahaya. Tak sampai sini, dia lebih memastikan dengan mengunjungi kementrian terkait untuk menanyakan langsung langkah-langakah pemerintah Indonesia dalam menangani permasalahan serius ini.
Apakah kita tidak terheran-heran? Orang asing saja sebegitu pedulinya dengan Sungai Citarum. Padahal mereka tidak mendapatkan manfaat secara langsung berkat keberadaan Sungai Citarum. Sedangkan kita, khususnya warga Jawa Barat dan DKI, setiap hari kita bergantung pada sungai ini. Lalu kita seolah-olah menghilangkah kesadaran untuk menjaga kelestariannya? Inilah kenyataan bahwa Sungai Citarum mengandung permasalahan rumit di setiap bagiannya, baik di Citarum Hulu, Citarum Tengah, dan Citarum Hilir. Penebangan hutan, erosi tanah, alih fungsi resapan air, pencemaran limbah domestik dan industri adalah penyebab utamanya. Nafsu kepentingan sesaat membutakan perilaku yang ramah lingkungan. Akibatnya, kita buang racun ke sungai maka kita sendirilah yang akan panen racun tersebut.   

Rencana Solusi dari Masa ke Masa


Jurus-jurus yang dianggap sejati telah dilakukan oleh pihak berwenang yaitu Pemerintah Indonesia. Pada periode 2000-2003, telah dicanangkan program Citarum Bergetar. Kata “bergetar” merupakan singkatan singkatan kata dari bersih, geulis (cantik dalam bahasa Sunda), dan lestari. Program ini berfokus pada pengendalian pemulihan konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Ternyata program ini belum dianggap optimal, karena kian hari masalah Sungai Citarum kian kompleks. Selanjutnya, pada tahun 2008 pemerintah mendapatkan pinjaman dari Asian Development Bank (ADB). Besar paket pinjaman itu senilai USD 500 juta atau sekitar Rp 6,7 triliun untuk program berjangka 15 tahun. Program jangka panjang 2008-2023 ini bernama Integrated Citarum Water Resources Management Investement Program (ICWRMIP) atau Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu di Wilayah Sungai Citarum. Singkatnya, dapat disebut sebagai program Citarum Terpadu. Sementara ICWRMIP belum menunjukkan hasil positif, Pemprov Jabar kembali mencanangkan program pemulihan pada 2013. Nama program kali itu juga mentereng, yakni Citarum Bestari. Bestari mempunyai makna “baik budi pekerti” merupakan kependekan dari bersih, sehat, indah, dan lestari. Lewat Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 75 Tahun 2015, gerakan Citarum Bestari resmi diluncurkan. Anggaran sekitar Rp 80 miliar pun disiapkan demi memuluskan jalan menggapai target Citarum Bestari. Pada tahun 2017, nama Citarum kembali popule dengan predikat sungai terkotor dan lagi-lagi membuat pemerintah bereaksi dengan menerbitkan program baru. Kali ini bernama Citarum Harum, dan ditargetkan rampung dalam waktu tujuh tahun. Target itu disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo saat meninjau kawasan hulu Sungai Citarum. Citarum Harum dipimpin Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, dan melibatkan banyak pihak, mulai dari kementerian yang berwenang, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, kepolisian, hingga TNI. Keterlibatan TNI secara masif dan terstruktur dalam program ini diharapkan membawa hasil berbeda dibanding program-program sebelumnya yang berakhir muram7.
Naluri murni sebagai makhluk hidup, tentu saja masih ada masyarakat yang peduli terhadap permasalahan Sungai Citarum. Komunitas-komunitas peduli Sungai Citarum bermunculan dan melakukan aksi yang sebisa-bisa mungkin untuk dilakukan. Misalnya adalah penutupan lubang pembuangan limbah industri yang tidak menerapkan IPAL. Mereka menyusuri satu per satu bibir sungai dan menutup dengan batu, karung, dan bahkan beton lubang-lubang pembuangan limbah. Namun, terkadang tanggul penutup ini tidak bertahan lama. Tentu saja ada oknum yang membongkarnya kembali. Salut sekali dengan para aktivis ini, tak sedikit intimidasi mereka dapatkan namun tetap berdiri di atas pendiriannya untuk menjaga kelestarian Sungai Citarum. Bagaimanapun itu, upaya masyarakat ini merupakan bentuk kecintaannya yang tulus tanpa pamrih kepada Sungai Citarum. 

Inisiasi Duta Lokal Citarum Harum
Pemerintah pusat telah melakukan upaya yang benar, yaitu meluncurkan program Citarum Harum di sungai strategis nasional ini. Berkaca dari ketidakoptimalan program-program revitalisasi Sungai Citarum sebelumnya, salah satu faktor utamanya adalah kurangnya partisipasi masyarakat secara masif dan berkelanjutan. Masif berarti pelibatan masyarakat dalam jumlah besar masih kurang. Dan berkelanjutan berarti muncul sebuah perilaku tidak “istiqomah” dalam menjaga rutinitas program yang telah direncanakan. Hal yang paling tidak diinginkan adalah munculah sebuah stigma berbahaya di masyarakat yaitu “Citarum bukan tanggung jawab kita, tapi tanggung jawab pemerintah”. Jika kalimat ini muncul dan bertranformasi menjadi sebuah pola pikir, dijamin apapun programnya, berapapun nilai proyeknya, dan secanggih apapun teknologi yang digunakan maka semua itu akan sia-sia saja.
Permasalahan Sungai Citarum bukan disebabkan oleh bencana alam, namun lebih condong diakibatkan oleh bencana akibat “karakter” buruk para penghuninya. Dan permasalahan Sungai Citarum bukan disebabkan oleh satu wilayah lokal saja. Permasalahan kompleks ini muncul dari setiap sudut bibir sungai di setiap wilayah yang dilalui. Jadi tidak bisa kita menyalahkan hulu, bagian tengah, ataupun bagian hilir nya saja. Beberapa pemetaan akademis telah dilakukan dan terbukti bahwa masing-masing bagian wilayah alirasan sungai memberikan faktor penyebab terhadap pencemaran Sungai Citarum.
Oleh karena itu, penting kiranya jika dipilih seorang penggerak citarum harum di setiap wilayah yang dialiri. Tak tanggung-tanggung, skala pemilihan penggerak ini lebih dipersempit yaitu di tingkat desa/kelurahan. Selanjutnya penulis mengusulkan menyebut penggerak ini sebagai “Duta Lokal Citarum Harum”. Pemilihan duta lokal diserahkan ke pihak desa dan masyarakatnya. Tujuannya adalah benar-benar menemukan orang yang berdedikasi, disegani, dan tanpa henti terus mengajak masyarakat untuk sedikit demi sedikit memberikan sumbangsih dalam pelestarian Sungai Citarum. 

Diperlukan Perlindungan Hukum dan Dukungan Finansial
Ada alasan masyarakat enggan ikut berpartisipasi dalam kegiatan kepedulian Sungai Citarum karena terdapat intimidasi dari oknum yang tidak bertanggung jawab. Beberapa film dokumenter menampilkan pengakuan masyarakat terhadap adanya intimidasi ini. Sebuah perlindungan yang legal adalah solusi tepat untuk mengatasinya. Pemerintah memberikan dukungan penuh dan melindungi para duta dan aktivis lingkungan dalam menjalankan tugasnya. Di era digital seperti saat ini, sangat gampang untuk melakukan sebuah pelaporan. Namun yang lebih penting adalah upaya pihak berwenang untuk meninjaklanjuti laporan tersebut.
Program-program revitalisasi Sungai Citarum selalu dianggarkan dengan kucuran dana yang fantastis nilainya. Dari dana ini dapat juga dialokasikan sebagian untuk mendukung kegiatan-kegiatan para duta lokal citarum harum. Keberlanjutan program tergantung 3P, yaitu planet, people, dan price. Jadi, di samping rasa tanggung jawab sosial yang tinggi, suplai pendanaan mengambil peran penting dalam keberlanjutan kegiatan para duta lokal citarum harum. Di bawah komando tim dari pemerintah pusat, duta lokal bertugas terus mengobarkan semangat masyarakat se tempat untuk bersama-sama menjaga kelestarian Sungai Citarum. 

Citarum, Bukan saja Urusan Pemerintah
Sungai Citarum adalah sumber penghidupan bersama, sudah sebuah keharusan bahwa keberlangsungannya juga tanggung jawab bersama. Program pemilihan duta lokal citarum harum adalah upaya untuk mengejowantahkan bahwa urusan lestarinya Sungai Citarum adalah hajat bersama, bukan hanya urusan pemerintah semata. Jika program ini dijalankan dari hulu sampai ke hilir dan saling terintegrasi apik maka bukan sebuah hal yang mustahil bahwa Sungai Citarum akan benar-benar harum secepatnya. Semoga!

Referensi:
1Anonim. 2014. Sejarah Sungai Citarum. http://nanjung.desa.id/detailpost/sejarah-sungai-citarum. Diakses tanggal 29 Mei 2018
2Perdana, Putra Prima. 2018. Dari Surga Ini, Air Sungai Citarum Berasal. https://regional.kompas.com/read/2018/02/26/07592761/dari-surga-ini-air-sungai-citarum-berasal?page=all. Diakses tanggal 29 Mei 2018
3Ferdiana, Sandy. 2016. Berjaya di Tanah Legenda. http://republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/16/08/14/obwpyq371-berjaya-di-tanah-legenda. Diakses tanggal 28 Mei 2018
4Fadhil Imansyah, Muhammad. 2012. Studi Umum Permasalahan dan Solusi DAS Citarum Serta Analisis Kebijakan Pemerintah. Jurnal Sosioteknologi Edisi 25 Tahun 11, April 2012
5Shofira, Hanan. 2017. #PlasticBottleCitarum, Dua Pemuda Prancis Susuri Sungai Terkotor di Dunia. http://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2017/09/01/plasticbottlecitarum-dua-pemuda-prancis-susuri-sungai-terkotor-di-dunia. Diakses tanggal 30 Mei 2018
6Mujahidin, Mumu. 2018. Jokowi Sebut Program Citarum Harum Bisa Selesai dalam 7 Tahun. http://jabar.tribunnews.com/2018/02/22/jokowi-sebut-program-citarum-harum-bisa-selesai-dalam-7-tahun. Diakses tanggal 30 Mei 2018

7Anonim. 2018. Gonta-ganti Jurus Pemerintah untuk Citarum. https://kumparan.com/@kumparannews/gonta-ganti-jurus-pemerintah-untuk-citarum. Diakses tanggal 30 Mei 2018

0 Komentar:

Posting Komentar