Sabtu, 26 Maret 2016

Terima Kasih Bu Telah Melahirkanku di Bulan Maret

Dua puluh empat tahun yang lalu, raga ini dilahirkan ke dunia ini. Kata Ibu saya lahir pada Minggu Pon, tanggal 15 Maret 1992. Di desa ku hari pon adalah hari pasaran paling rame, di mana warga berbondong-bondong ke pasar untuk berdagang dan berbelanja. Untung saja Ibu ku dulu pada hari itu tidak pergi belanja, Ibu ku milih untuk melahirkanku dengan sekuat tenaga nya di tempat bu Bidan, Terima kasih banyak ya Ibuk ku saya. Semoga Ibu sehat bahagia selalu dan dapat mendampingiku sampai berkeluarga, mempunyai anak dan bahkan saya mempunyai cucu kelak. Aamiin.
Masa kuliah S1 menyimpan kenangan unik di bulan maret. Masih ingat bulan maret 2013, saat itu pertama kalinya saya naik pesawat terbang ke negeri orang. Yang jelas pertama kali nya mempunyai pasport. Uniknya sekalinya ke luar negeri, ya pertama kalinya saya nyasar. Berangkat malam dari Bandara Soetta, otomatis saya tiba hampir tengah malam di Bandara KLIA Malaysia. Kebetulan sepertinya, pesawat yang saya naikin didominasi oleh rombongan kaos seragam ijo-ijo. Ketika keluar pesawat, saya mengikuti arah jalan mereka. Saya pikir itulah jalan keluar bandara. Saya sendiri juga belum tahu-menahu mengenai prosedur imigrasi. Setelah sampai di sebuah ruangan, rombongan ijo-ijo diminta duduk dan otomatis saya juga duduk. Lumayan lama duduk saya termenung, emang begini ya kalau tiba di bandara internasional negara orang? Saya positive thinking, sabar dan menunggu. Tapi kog lama banget ya? Akhirnya, dengan gaya mahasiswa saya bertanya dengan menggebu-gebu. Oh nooo, ternyata oh ternyata. Saya ini ikut rombongan teman-teman TKI. Mereka belum boleh keluar bandara sebelum ada pihak yang menjemput, termasuk saya yang ada di rombongan itu. Kenangan banget ini, akhirnya saya diarahkan ke bagian imigrasi dan diperbolehkan ambil bagasi.
Maret-maret selanjutnya juga begitu, ada saja sejarah yang diberikan oleh Allah SWT ke diri ini. Dan yang terdekat adalah maret 2016 ini. Alhamdulillah, tepat tanggal 10 Maret 2016 pukul 11.30 WIB malam status Scholarship Hunter saya dirubah menjadi Awardee. Alhamdulillah Luar Biasa Dahsyat Allahu Akbar!!! Kado indah seiiring bertambahnya usia ini. Malam itu Ibu yang tertidur lelap bangun dan tak henti-hentinya mengucap syukur dan senyum bahagia. Kami berdua membagi kebahagiaan bersama sampai jam 02.00 pagi. Saya dinyatakan lulus seleksi wawancara beasiswa magister LPDP Dalam Negeri untuk kampus tujuan ITB. Mimpi untuk studi magister sudah di depan mata untuk diwujudkan. 
Teman-Teman Satu Group Essay, LGD, dan Wawancara LPDP

Allah SWT sepertinya telah benar-benar merencanakan beasiswa ini untuk saya. Semua urusan dimudahkan oleh-Nya. Persiapan berkas-berkas untuk seleksi administratif terasa berlalu satu demi satu. Perjuangan pertama dimulai dengan mencari surat keterangan dari desa. Bapak sekretaris desa sangat berbahagia dengan kedatangan saya. Beliau sangat mendukung langkah saya meneruskan mimpi untuk jenjang S2. Harapan beliau adalah kelak saya dapat bermanfaat dan membanggakan desa. Langkah selanjutnya adalah permohonan surat rekomendasi. Saya dengan semangat dan memberanikan diri untuk menemui wakil rektor bidang kemahasiswaan dan akademik dan dekan FPTK UPI. Beliau berdua menyambut hangat kedatangan saya dan memberikan dukungan sepenuhnya untuk motivasi ini melanjutkan studi.
Kang Ade Suyitno, mentor saya di kampus semenjak awal-awal semeter dulu adalah sosok yang luar biasa membuka pemahaman saya mengenai beasiswa LPDP ini. Banyak saran dan masukan beliau mulai dari nol sampai persiapan wawancara. Terima kasih bankyak akang, semoga sukses selalu bisnis dan studi nya, Kang Ade ini juga Awardee LPDP untuk program Magister SBM ITB. Beliau juga membuka usaha tempat kursus bahasa inggris yang sudah mulai berkembang bagus saat ini. Penulisan essay dan rencana studi saya belajar banyak dari beliau. Kang Ade memberikan nasihat berdasarkan pengalaman nya dan juga pengalaman teman-teman awardee nya. Seakan mendapatkan peta, saya merasa tidak tersasar dan kebingungan dalam menulis essay dan rencana studi ini.
Persyaratan sudah terkumpul semuanya, hanya satu yang belum yaitu Sertifikat TOEFL ITP. Hal ini adalah tantangan terbesar bagi saya. Dari SD sampai sekarang saya belajar Bahasa Inggris dan juga belum-belum bisa. Seringkali minat bakat saya salahkan, hahaha mungkin hanya mencari-cari alasan saya ini. Beberapa bulan sebelumnya saya menemukan broadcast dari teman mengenai Sekolah TOEFL gratis dan online. Benar sekali, ini adalah rintisan Mas Budi Waluyo. Dahsyat luar biasa, Sekolah TOEFL ini membuka cakrawala saya bahwa TOEFL itu menyenangkan dan penting. Modul-modul di sekolah ini empuk untuk dicerna. Dan yang paling teringat adalah motivasi-motivasi Mas Budi yang selalu di update di blog pribadinya. Saat mulai lesu seakan tersambar petir kembali untuk bersemangat ketika membaca tulisannya dan melihat videonya. Hatur nuhun Mas Budi.
Terlalu santai untuk ambil tes TOEFL adalah kesalan yang menjadi pengalaman luar biasa bagi saya. Mungkin awalnya saya berpikir ah santai saja da tempat tes nya kan juga banyak. Pasti masih ada kursi kosong untuk saya kapan pun daftar nya. Salah Besar Ternyata! Saya mulai mencari-cari tempat tes di awal bulan januari, ya mengingat deadline LPDP Bacth 1 kan juga tanggal 20, gumam saya begitu. Ternyata oh ternyata saya mulai panik, semua tempat tes dengan jadwal keluar sertifikat sebelum tanggal segitu sudah pada penuh semua. Saya telpon tempat-tempat tes di Jakarta, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, dan Malang semuanya penuh. Panik dan panik sekali rasanya saat itu. Sudah terpikir ya sudahlah ini adalah kesalahan saya dan mungkin saya harus daftar untuk gelombang 2. Konsekuensi nya adalah semakin lama waktu bagi saya untuk membuat tenang dan percaya orang-orang tersayang di sekeliling saya akan masa depan seorang pemuda ini.
Allah SWT memberikan petunjuk tepat, saya memutuskan untuk tetap ikut tes TOEFL di English First, Cipaganti, Bandung. Tanggal tes nya adalah 09 Januari 2016 dan sesuai yang dijadwalkan sertifikat TOEFL nya baru keluar 2 minggu setelah tes yaitu tanggal 23/24 Januari 2016. Sudah lewat dari masa pendaftaran Bacth 1 tentunya. Sambil mengerjakan tes saya masih menyimpan harapan besar agar sertifikat nya dapat keluar sebelum tanggal 20.
Pada tanggal 18 januari saya sudah mulai menanti-nantikan. Waktu itu pulang dari bimbing ekskull KIR di SMKN 2 Kota Bandung, saya sempatkan mampir ke EF. Alhamdulillah skor nya sudah keluar, namun tetap untuk sertifikatnya belum keluar. Akang petugas nya bilang kalau sertifikat keluarnya sekitar tanggal 23. Oh sudahlah pikirku, saya pulang diiringin hujan deras yang terus mengguyur. Tak patang harapan, hari-hari berikutnya saya tetap menelpon.
Tanggal 20 Januari 2016, saya beberapa kali menanyakan dan hasilnya tetap sama bahwa sertifikat belum jadi. Padahal hari ini tepatnya nanti malam adalah deadline penutupan Beasiswa LPDP Bacth 1. Berdo’a dan Berdzikir adalah penenang saya. Pukul setengah 6 sore saya mencoba untuk menelpon kembali. Suasana nya hujan sangat deras sekali. Tidak terduga, jawaban di telpon itu membuat saya loncat-loncat. Allahu Akbar! Sertifikat TOEFL saya sudah keluar dan bisa diambil. Membelah deras nya hujan saya dengan penuh semangat melaju ke EF.
Scan beberapa berkas langsung saya lakukan dan formulir online juga baru saya lengkapi malam itu. Tepatnya pukul 10.30 WIB saya baru menyelesaikan pedaftaran online dan upload berkas. Sebetulnya saya masih belum percaya tentang hal ini, oleh karena nya saya tidak sempat ngecek banyak dulu karena mengira sudah jam setengah 12 malam, oh ternyata masih jam setengah 11 malam. Pasrah dan berdo’a saja mudah-mudahan dapat yang terbaik.
Sesuai saran Kang Ade, saya perbanyak blogwalking untuk membaca-baca pengalaman para awardee di saat sesi wawancara, LGD dan Essay on the Spot. Hal yang membuat saya terkesan saat wawancara adalah ungkapan Ibu Psikolog. “Kamu itu lucu ya, tapi belum cukup lucu untuk ikut Stand Up Comedy” kata beliau. Hahaha sebenarnya Ibu nya terhibur atas jawabanku, mungkin beliau tidak mau memuji saya sepenuhnya takut saya melonjak loncat-loncat jauh ke plafon. Hahaha.
Saya masih tepuk-tepuk pipi, apakah saya masih mimpi? Benar saya masih mimpi untuk bisa keterima di ITB di Prodi Teknik Elektro. Beasiswa sudah digenggaman, satu tahap lagi yaitu Ujian Saringan Masuk ITB program magister. InsyaAllah akan mencoba mendaftar di gelombang 1 bulan April ini dan intake kuliah pada akhir Agustus 2016. Mudah-mudahan selalu dilancarkan dan dimudahkan. Aamiin.
Masih teringat kala Allah memilihkan UPI untuk jenajng sarjana saya, kampus pendidikan di Bandung utara. Tidak pernah terbayangkan akan bagaimana saya di UPI nanti. Satu bulan sebelum masa perkuliahan saya pulang ke Wonogiri. Sesampai di rumah saya disambut air mata oleh Ayah. Sama sekali tidak menduga saya, Ayah yang betipikal keras dan jarang menangis, saat itu begitu deras mengeluarkan air mata sambil memeluk erat saya. Ayah yang susah bicara karena stroke ternyata memendam keinginan agar saya menjadi seorang pendidik nantinya. Air mata Ayah adalah semangat yang selalu teringat ketika saya mulai lesu mengarungi kehidupan ini. Ayah, anakmu saat ini selangkah lagi akan mengenyam pendidikan S2 dan mudah-mudahan menjadi pendidik sebagai dosen yang benar-benar bekerja dan mengabdi sesuai kemampuan ini.
Beberapa kelancaran akademis yang saya raih saat ini sangat dipengaruhi oleh pola pikir Ibu saya. Beliau tidak pernah mengenyam pendidikan, tidak bisa membaca, dan juga tidak dapat menulis. Namun, Ibu mempunyai sudut pandang yang jauh lebih maju mengenai pendidikan anaknya. Oleh karena itu, jika berbicara mengenai sukses terbesar dalam hidupku adalah saya dapat membahagiakan Ibuku setiap waktu. Pengorbanan Ibu sangatlah nyata dan jika ditayangkan di serial sinetron pasti semua orang akan terharu menontonnya. Ibu sehat selalu ya, harapanmu mengenai pendidikan anakmu ini akan terus saya perjuangkan hingga engakau memelukku pada pengukuhan gelar di jenjang pendidikan tertinggi yang dapat saya raih kelak. Aamiin. 

0 Komentar:

Posting Komentar