Sabtu, 10 Mei 2014

Onde-Onde sebelum “Politik Paralel”

Onde-onde itu jajanan yang tak tergantikan bagiku, ya bagi seorang masram. Sahabat tahu betapa tidak mudahnya bikin onde-onde? Dan saudara tahu betapa nikmatnya gigitan pertama untuk sang onde-onde? Oleh karenanya, seringkali saya bekal onde-onde yang banyak ketika berangkat dari kampung halaman. Beda daerah ternyata beda cita rasanya. Ibu-ibu pinggir pasar di kampung saya ternyata lihai meracik onde-onde yang menggoyang lidah walaupun hanya dibanderol dengan harga lima ratus rupiah. Lama gak pulang lagi ke Purwantoro, saya jadi kangen onde-onde pintu masuk pasar itu. Dulu sewaktu SMA saya kurang mengenal tentang pentingnya belajar rangkaian listrik. Sekilas dipelajari di mata pelajaran fisika. Gurunya yang juga merangkap menjadi dosen, secara perlahan juga membuat saya semakin merasa kesulitan akan mapel fisika. Luar biasanya, sekarang malah mengambil program studi Pendidikan Teknik Elektro. Jadi, Rangkaian Listrik adalah kewajiban edukasi bagi saya. Sederhananya tentang rangkaian seri dan paralel. Kalau seri itu hambatannya akan semakin besar. Dan paralel itu belum tentu semakin besar hambatanya, kadang-kadang ada yang menjadi semakin kecil hambatannya. Pernah di awal semester belajar tentang mata kuliah umum yang menyinggung tentang filosopi. Nah, saya ada pendapat untuk berhati-hati dengan karakter berbeda pada beberapa teman seperjuangan. Tidak memungkiri, ada suatu upaya “politik paralel” diantara mereka. Karakter dan wujud pendekatan mereka terhadap kita memang berbeda, namun jika benar maka perbedaan itulah yang akan semakin membuat kita bingung dan tidak sadar. Akibatnya kita secara perlahan akan masuk dalam permainanan pencapaian tujuan mereka. Prinsip mereka adalah semakin banyak elemen paralelnya, maka semakin kecil hambatan yang akan dilalui. Dan hambatan itu bisa jadi adalah kita. Wow, ternyata selain ujian di kelas, saya agak bisa ya mengkorelasikan pembahasan mata kuliah dengan gaya hidup. Mayoritas organisasi di kampus sudah ada garis besar di belakang anggaran dasar. Itu menurut saya, beda lagi menurut sahabat. Jadi, berhati-hati dan be happy sudah cukuplah. Bertele-tele sekali saya bercerita, yang jelas tetap tidak akan mengurangi rasa onde-onde yang khas itu. Apapapun yang telah mereka lakukan, saya tetap suka makan onde-onde. Walaun waktu itu saya lebih banyak kerjanya daripada makan onde-onde. Ternyata filosopi “kerja tutup gendang” itu lebih baik. Saya malu karena terlalu nyaring dari dalam. Semoga saja saya tetap menyukai disiplin ilmu yang telah saya pilih dan tentunya selalu berusaha agar tidak merasa rugi. Berbahagia sentosa!  

0 Komentar:

Posting Komentar