Selasa, 17 Juli 2012

Sang Juara!

Sang Juara!

Suatu ketika, ada seorang anak yang mengikuti lomba balap mobil mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang, dan masing-masing dari mereka menunjukkan mobil mainan yang mereka miliki. Semuanya buatan sendiri, sebab memang begitulah peraturannya.
Ada seorang anak bernama Mark, mobilnya tak istimewa, tapi ia termasuk dalam 4 finalis. Dibanding semua lawannya, mobil Mark lah yang paling tak sempurna. Beberapa orang menyangsikan kekuatan mobil itu untuk melawan mobil lainnya.

Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab mobil itu buatan tangannya sendiri.
Tibalah saat yang dinantikan, final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan telah siap 4 mobil, dengan 4 “pembalap” kecil di atasnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah di antaranya.
Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak sedang berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan terbuka memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, “Ya, aku siap!”
Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobil masing-masing. “Ayo…ayo, cepat…cepat, maju…maju,” begitu teriak mereka. Sang pemenang pun harus ditentukan, dan tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya. Semua orang senang, termasuk Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. “Terima kasih.”
Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya, “Hai jagoan, kamu tadi pasti berdoa meminta pada Tuhan agar kamu menang, bukan?” Mark terdiam. “Bukan, Pak. bukan itu yang aku panjatkan,” kata Mark.
Ia lalu melanjutkan, “Sepertinya tidak adil untuk meminta pada Tuhan menolongmu mengalahkan orang lain. Aku hanya memohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, kalau aku kalah.” Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.

Mungkin, telah banyak waktu yang kita gunakan untuk memohon pada Tuhan untuk mengabulkan semua permintaan kita, menjadikan kita nomor satu, menjadikan kita yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian, untuk menghalau segala cobaan dan ujian di depan mata. Padahal, bukankah yang kita butuhkan adalah bimbinganNya, tuntunanNya, dan panduanNya?
Kita sering terlalu lemah untuk menyadari kita kuat. Kita sering lupa dan merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang ingin kita lalui? Allah menguji seorang hambaNya bukan untuk melemahkanNya, tetapi menaikkan kedudukannya saat ia berhasil mengatasi ujian itu. Allah selalu memberikan ujian sesuai kemampuan hambaNya, dan Allah bersama orang-orang yang sabar, Insya Allah.

Azhar Memories 

0 Komentar:

Posting Komentar