Selasa, 17 Juli 2012

Kemarahan adalah Sifat Terburuk

Kemarahan adalah Sifat Terburuk
Seorang mukmin menertibkan dirinya sendiri; dia mengkritik dan menilai hanya untuk kepentingan Tuhan. Penghitungan akhir (hisab) bisa menjadi ringan pada

orang-orang karena mereka dulunya terbiasa menghisab dan menilai diri sendiri dalam kehidupan ini. DanPenghitungan Akhir pada Hari Pengadilan kelak menjadi amat keras pada mereka yang menjalani hidup ini dengan sembrono dan mengira bahwa mereka tidak akan pernah dipanggil untuk di hisab. (Al- Hasan ibn Ali ibn Abi Talib )
Dalam thariqat kita, untuk menghilangkan kegelapan dalam hati, adalah penting bagi semua pencari untuk menyiapkan sebuah buku tulis dan menulis sifat-sifat buruk dari ego masing-masing. Setiap orang bisa mencatat sedikitnya 200 kelakuan-kelakuan buruknya.Dengan menuliskannya akan menjadi kunci untuk menghancurkannya. Siapa yang belum pernah melakukannya, maka harus segera melaksanakan nya. Diantara sifat-sifat buruk ini adalah mencuri, berbohong dan marah. Salah satu yang paling buruk adalah kemarahan. Jika kalian marah pada seseorang, maka kendalikan diri sendiri selama 40hari. Syaikh Nazim menulis bagi diri beliau sendiri lebih dari 100 kelakuan
buruk, jadi kita tidak mungkin kurang dari itu. Ketika kalian mengamati sifat-sifat buruk ego itu, kalian akan merasa jijik. Proses ini akan merobohkan ego yang menghasut (an-nafs al –ammara ). Jika kalian menulis apa yang masuk dalam hati dengan bantuan spiritual syaikh, maka ego akan takut. Jika ada yang menemukan buku catatan kalian, biarkan mereka melihatnya, karena lebih baik merasa malu dalam dunia ini daripada di Hari Pengadilan kelak.
Sebagai tambahan, para pencari harus menyediakan waktu di setiap akhir hari untuk menghitung diri sendiri : apa yang telah dia perbuat dan mengapa dia melakukannya? Apakah dia telah lalai dan mengapa ? Siapa yang dia jahati dan siapa yang telah dia tolong? Lalu ambil tasbih dan minta ampunan Tuhan (istighfar ) bagi tiap kesalahan dalam perbuatan atau kelalaian itu.
Keseimbangan berawal dari diri sendiri, karena diri ini adalah akar dari segala masalah dalam spiritualitas. Dalam mendekatkan diri pada Hadirat Allah, para pencari harus membangun aspek ilahiah daridirinya. Seseorang mungkin akan bergegas dalam ibadah-ibadah sunah dan puasa, bersedekah lebih banyak, dll. Namun, dalam mencari kebenaran, hal-hal tersebut tidaklah cukup. Karena biasanya orang-orang yang beribadah akan melewatkan sebuah langkah yang pentingyaitu al muhasabah – penghisaban/pemeriksaan diri sendiri. Tanpa aspek ini, seluruh ibadah yang dilakukan adalah dalam keyakinan bahwa kita sedang meraih tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi, padahal faktanya hal itu menjadi penghalang kemajuan kita. Bagaimana bisa ? Ketika ibadah-ibadah itu tidak secara murnidilakukan demi mencari ridha Allah semata dan kita terus melanjutkannya dibawah prasangka berpuas diri bahwa seluruh apa yang kita lakukan adalah untuk meningkatkan perkembangan spiritual kita. Pada saat itu, kita kemudian bersantai-santai menikmati kesuksesan dalam disiplin dan pekerjaan spiritual.
PresRed
http://mevlanasufi.blogspot.com

0 Komentar:

Posting Komentar