Senin, 16 Juli 2012

Derasnya Arus...

Derasnya Arus...

Bocah gendheng! Gak punya mata to kau itu? Gak tahu orang tua kerja banting tulang, ei malah tidur-tiduran pura-pura belajar!!! Dooorrrrr!!! (suara pintu kamar dibanting). Seketika aku tergoyak seakan tak berdaya. Jantungku berdebar dan rasanya takut tuk mengucapkan maaf kepadanya. Bahkan mau keluar kamarpun, aku masih ragu.
Tapiapa boleh buat, andai tak keluar aku tambah dimarahi. Dengan penuh dicekam kegetiran hati ku bera njak keluar dan melakukan apa yang aku bisa. Namun beliau mengucap kata tak segar dihadapanku sambil seolah-olah menghalangiku untuk melakukannya. Memang sakit rasanya untuk tetap pada pendirian. Kucoba menutupi telinga dan tak menghiraukan perkataannya. Mungkin sifat Ayahku ini hanyalah bawaan ketika sekian tahun hidup sendiri. Yang belum menjadikan aku menerima hal ini berlangsung secara terus menerus, entah apa lagi yang harus aku perbuat untuknya, mungkinkah nanti ada bidadari yang singgah dihatinya dan menyapa baik kepedihanku. Karena sudah jelas muncul dari pengalaman hanyalah peri merah yang jahanam bertepi dihatinya dan mengakibatkan semua jadi malapetaka belaka bagi keluarga kami.
“Hey, kamu itu niat kerja atau tidak? Kalau tidak, tidur sana lagi! Kerja kok loya-loyo?” bentaknya.
Tiba-tiba bentakan itu kesekian kalinya harus aku hadapi dengan menundukkan kepala seraya merasa patuh. Aku merasa takut dan gundah seakan waktu terasa diam begitu lama dan mencengkeram.
Kehidupan di hadapan ini seakan hanya ruang hampa yang diam membisu tanpa kata-kata. Kalau kutengok keluarga samping rumah, begitu harmonis kehidupannya. Setiap hari diisi canda dan tawa antara anak dan bapak. Kapan aku dapat seperti dia?” Benakku bertanya seusai pekerjaan ayah aku bingung, entah mau melakukan apa lagi. Jika ini nanti nati salah itu jika itu nanti salah ini. Tak terputuskan olehku soal itu, jika itu nanti salah ini tak terputuskan olehku soal itu. Hanya duduk bersila di depan rumah dan memang ada diatas nan jauh secarik awan siang.
“Hey….!!!”
Aku setika kaget apakah itu ayahku? memanggilku tuk memarahiku?
“Hey … sobat? ini aku Jono. Kenapa kamu kaget? kaya dicekam singa di siang bolong aja? Hehe … Tegas Jono.
“Owalah, Jon… Jon kamu to kirain siapa? hantu kali? hehe …? jawabku
Saat itu aku dan dia sedikit ngobrol tentang mau kemana kelas. Tak lupa pula tentang cita-cita yang membawa perubahan besar bagi kehidupanku.
Saat dia kutanya “mau jadi” apa besok Jon?
Dia menjawab bahwa ia ingin sekali menjadi orang sukses dan bebas itulah sua kata yang tak pernahkulupa sampai sore ini. Apakah ada yang aneh dengan kata itu, akupun tak tahu, tapi itulah hasrat dari dalam sanubariku.
Petang hari, ku beranjak pergi kemasjid bersama satu orang teman dekatku.
Pakaianku sudah rapi dan harum setelah ku semprot dengan minyak wangi spray. Tinggal menungggu panggilan temanku itu sambil menunggu ku duduk di kursi empuk peninggalan Ibuku dulu sebelum pergi. Sungguh betapa nyaman seandainya beliau disampingku sambil mengelus-elus rambutku ini pikir benakku.
“Pok … pok … pok …”
Itu pasti temanku, maklum hanyalah dengan isyarat dia berani memanggilku karena dia juga takut sama ayahku yang dibilang galak.
Bergegaslah aku keluar, tiba-tiba di depan pintu itulah ayahku baru pulang.
Mau kemana kau?” tanya ayahku.
“Ke masjid yah, sebentar aja kok.” jawah lirihku.
“Tidak boleh kamu masih harus nunggu rumah, tidak harus kemana-mana? tegas ayahku sambil menggeret tanganku ke dalam.
Dengan isyarat aku mengisyaratkan ke temanku bahwa aku tak bisa ke masjid.
Daya ku sebenarnya ingin meloncat, tapi terpenjara karena terdapat di dalam sangkar. Aku hanya terpana melihat kesekian kalinya dia bertindak tidak senonoh di rumah. Rumah yang dulu penuh canda tawa, mungkin bisa dibilang angker bagiku. Apakah semua itu bagaikan kedondong. Ketika ibu ada dia berupaya sehalus mungkin, tetapi ketika tak bertatap hanyalah duri yang muncul dan menusuk dibawahnya. Sebetulnya aku tidak memendam rasa benci padanya tapi ini sudah benar-benar kelewatan. Sungguh lewat batas normal untuk mendidik anaknya yang baik dan berperilaku terpuji mungkin bila nanti ibu masih kembali. Ini akan berubah total. Ada kemungkinan juga masih seperti kedondong dan berharap untuk pergi lagi. Petang kian larut hingga malam melarut kian larutnya. Jam dihadapanku menjukkan tengah malam, tapi dia juga belu kunjung datang. Ketika ada yang telepon aku tak sanggup mengatakan yang sebenarnya “ke tetangga hajatan” itukah jawabku secara sama setiap kali ada yang menanyakan. Entah itu lewat telepon ataupun penamu yang berkunjung ke rumahku.
Malam hari dan barakhir sampai setelah subuh dia juga belum hadir mengetuk pintu rumah. Aku bingung kaya orang yang linglung, apakah ini yang dinamakan akan ayam mencari induknya. Hal itu membuat harus aku menunggu sampai aku terlambat masuk sekolah.
Di meja belajar rasa kantuk membutakan mataku, memang semalam aku tak tidur. Hanya ingin yang mencoba mengajari ku menggerakkan mata waktu itu.
Minder itulah kuhadapi saat di kelas.
Bukanlah ejekan teman sekelasku yang membuat seperti itu melainkan hanyalah perasaanku karena aku berlatar belakang beda. Tak lupa aku suka bingung alias linglung.
Ketika dihadapkan hal yang mengharuskan aklu memilih, aku hanya diam. Sejak kecil tak ada yang memperhatikanku, kemarahan ketidakharmonisan, kebaikan sementara menjadi background waktu saat tiu. Tidak ada yang tidak mungkin, jikalau itu menular padaku sampai saat ini. Rasanya jikalau ada yang aneh setiap aku melangkah. Yap itu yang dikatakan tidak PD dan ragu-ragu.
Sekarang, sejak kejadian saat itu sampai dirumah dari sekolah itu tubuhku tak lagi hidup.
Keterbatasanku membuat semakin sempit.
Tetanggaku bilang aku harus tetap semangat walau kaki tak sanggup mengusung badanku karena pukulan itu, akan tetapi pikiran ku masih berbicara di depanku seperti tetanggaku tadi. Sekali lagi aku berharap dan terus berharap di sela-sela derasnya arus yang membawaku sekarang ini.
By: Agus ramelan

0 Komentar:

Posting Komentar